Kasus Penembakan Bagian Kewaspadaan Aksi Cah Klithih

SLEMAN – Provost dan Paminal Polri masih mendalami pemeriksaan terhadap Bripka EB, 30, bintara polisi yang menembak Arif Yulianto (AY), 17, karena diduga telah menghina institusi Polri saat dalam keadaan mabuk. Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin mengklaim, tindakan yang dilakukan anak buahnya sebagai sikap kewaspadaan aparat terhadap aksi “Cah Klithih” yang kian marak.
Melihat kronologis kejadian, Ihsan menengarai adanya potensi kenakalan remaja yang diidentikkan dengan istilah Cah Klithih itu. “Indikasinya, anak keluar malam sampai pukul 03.00. Apalagi dengan minum minuman beralkohol,” katanya kemarin.
Ihsan menduga, dua orang ABG tersebut, AY dan AT, merupakan bagian dari sekelompok besar yang beranggotakan anak-anak seusia mereka. “Bisa jadi mereka tadinya rombongan, lalu terpisah saat pulang,” jelasnya.
Ihsan mendeteksi, sedikitnya ada 25 geng remaja di Sleman yang berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat. Polisi selalu memantau keberadaan mereka. Menurutnya, polisi telah mengantongi semua data anggota kelompok dan tempat-tempat yang bisa dijadikan posko untuk nongkrong.
Kendati begitu, Kapolres tak menampik bahwa di Sleman masih banyak kelompok remaja yang positif. Mereka berkelompok untuk kegiatan sosial seperti karang taruna.
Terpisah, Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengatakan, pihaknya kerap mendapat pertanyaan dari masyarakat tentang situasi kamtibmas di wilayah Jogjakarta. Terutama terkait maraknya geng-geng anarkhis yang beredar di media sosial sehingga masyarakat tak tenang untuk beraktivitas, khususnya malam hari. “Hal itu (kabar hoaks di media sosial) tidak benar. Kami sudah cek di lapangan,” ujarnya.
Karena itu, Anny mengimbau masyarakat tenang, tapi tetap waspada. Juga tak mudah percaya atau terprovokasi dengan munculnya isu yang sengaja disebarluaskan oleh oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi.
Polda DIJ menjamin keamanan wilayah Jogjakarta dengan menggelar patroli 1 x 24 jam strong point dan razia. “Polda tak memberi toleransi kepada orang-orang yang membuat kerusuhan,” tegasnya.
Anny meminta masyarakat yang melihat atau mengetahui tindak kriminal atau kelompok yang berbuat onar segera melapor ke kantor polisi terdekat. Atau, menghubungi call center 110. Bisa juga melalui SMS online 08112929000.

Tembakan Itu Langkah Terakhir

Kasus penembakan terhadap remaja AY mendapat perhatian khusus dari Jogja Police Watch (JPW). Mereka meminta dalam pemeriksaan AY maupun rekannya yang memboncengkan, bisa didampingi dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA). Diharapkan itu bisa membuat mereka memberikan keterangan sebenarnya alias tidak dalam tekanan.
“Saat ini kan baru dari versi polisi. Kita tunggu dari versi AY dan temannya. Mereka juga perlu dimintai keterangan tapi jangan dalam keadaan tertekan. LPA perlu mendampingi,” ujar aktivis JPW Baharudin Kamba kemarin (17/10).
Kamba menegaskan, proses hukum harus berjalan transparan dan adil. Karena itu, keterangan dari AY dan temannya sangat diperlukan, selain kemungkinan ada orang lain yang melihat penembakan tersebut.
Kamba juga meminta ihwal tertembaknya AY, yaitu dari makian terhadap petugas jaga Polsek Sleman, yang terekam CCTV bisa diteliti kembali. Termasuk kemungkinan, menurut versi polisi, makian dari AY apakah juga terekam suaranya.
Meskipun begitu, Kamba menegaskan tembakan merupakan langkah terakhir yang diambil petugas untuk melindungi dirinya. Prosedurnya juga harus sesuai, seperti tembakan peringatan dan tembakan ke kaki untuk melumpuhkan.
Kamba setuju, tembakan adalah langkah terakhir yang harus diambil petugas. Tetapi, para personel kepolisian juga sudah dibekali dengan kemampuan bela diri, sehingga tidak perlu mengeluarkan senjata api. Jika terdesak dan terancam karena pelaku menggunakan senjata, petugas bisa menggunakan senjata api sesuai prosedur. “Yang jadi pertanyaan, kenapa tembakannya ke tangan yang kemudian tembus pinggang?” tanyanya.
Kamba juga kembali mengingatkan kepolisian agar rutin mengetes kondisi psikologi petugas yang membawa senjata. Proses pemberian senjata api ke petugas harus ketat, apakah sudah layak atau tidak. “Jangankan terhadap masyarakat umum, kasus penembakan antarsesama anggota Polri pun sering terjadi,” ujar Kamba.
Selain itu, Kamba meminta polisi benar-benar mengusut kasus ini. Jika benar AY dan temannya dalam keadaan mabuk, dia meminta polisi menelusuri lokasi-lokasi penjualan miras oplosan yang saat ini marak di wilayah DIJ. Dia khawatir sebagai pembenaran polisi akan beralasan AY dan temannya sebagai bagian dari cah klithih yang lagi marak di Sleman. “Karena itu, kami minta kasus ini secara transparan penyelesaiannya,” ujar Kamba.
JPW mencatat kasus penembakan petugas terhadap AY ini merupakan yang ketiga kali terjadi di wilayah DIJ dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebelumnya, juga sempat terjadi penembakan terhadap mahasiswa Filsafat UGM karena dikira akan mencuri motor, serta mahasiswa UPN Veteran Jogja. Kedua kasus ini tidak jelas proses hukumnya karena diselesaikan secara kekeluargaan. (yog/pra/laz/ong)

Jogja Utama