Harapkan Jogja Jadi Kota Paling Layak Huni

Hari ini (7/10) Kota Jogja tepat berusia 258 tahun. Perayaan ulang tahun Kota Jogja ini juga disambut meriah di seluruh penjuru kota. Sejak September 2014 lalu, rangkaian perayaan ulang tahun sudah dimulai dari tingkat kelurahan. Apa yang menjadi harapan untuk kota ini?
HERU PRATOMO, Jogja
Di balik segala suka cita menyambut ulang tahun Kota Jogja, masih banyak pekerjaan rumah bagi ibu kota Provinsi DIJ ini. Salah satu yang kini menjadi sorotan di tengah masyarakat serta seniman Jogja, yaitu kritik maraknya pembangunan hotel baru. Selain itu juga masih terdapat banyak harapan untuk kemajuan kota pelajar ini.
Salah satunya seperti diungkapkan Wali Kota Jogja periode 2001-2011 Herry Zudianto (HZ). Sebagai warga Kota Jogja, HZ berharap semoga predikat Jogja sebagai kota yang paling nyaman untuk dihuni, bisa terus dipertahankan. Minimal bisa masuk tiga besar.
Untuk itu, HZ yang pernah berduet dengan wali kota sekarang Haryadi Suyuti memimpin Kota Jogja ini berpesan untuk tetap memperhatikan keseimbangan. Mulai dari aspek tata ruang, pelayanan dasar, perekonomian hingga interaksi sosial budaya.
“Sebagai warga kota tentu berharap bisa kembali, terlebih pada 2009 dan 2011 Jogja masih menjadi kota yang paling nyaman dihuni,” ujar HZ yang kini memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) DIJ ini.
Harapan yang sama juga diungkapkan pelaku pariwisata. Sebagai sektor unggulan di Jogja, pariwisata berhubungan dengan banyak hal, di antaranya keamanan dan kenyamanan wisatawan. Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIJ Edwin Ismedi Himna mengatakan, kenyamanan di Kota Jogja perlu ditingkatkan, mulai dari hal terkecil sekalipun. “Sehingga keluhan wisatawan yang berlibur di Jogja bisa diminimalkan,” terangnya.
Selain itu Edwin juga meminta Pemkot Jogja semakin lebih bisa menata Kota Jogja dengan menjadikan kota yang go green buat wisatawan. Seperti lebih banyak membuat taman kota. “Selain lebih hijau, juga membuka ruang publik yang harmoni dengan penduduknya,” ujar Edwin.
Sementara itu Sekretaris BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono mengharapkan Kota Jogja jangan terlena dan terninabobokan dengan predikat sebagi kota pendidikan, budaya, pariwisata dan lainnya. Tapi diminta harus terus berbenah diri dengan budaya Jogja, serta jangan berhenti mempromosikan Kota Jogja.
“Ingat, salah satu lokomotif perekonomian Kota Jogja adalah pariwisata. Infrastruktur pendukung dengan banyaknya hotel perlu juga dipikirkan agar balance antara jumlah kamar dan tamu yang datang serta menginap,” jelasnya.
Dalam usianya yang ke-258 tahun, Kota Jogja memang terus dituntut untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang tinggal di Jogja maupun pendatang di Jogja. Hal itu juga disadari oleh Wali Kota jogja Haryadi Suyuti (HS).
Dirinya bertekad menjadikan Kota Jogja sebagai kota yang layak huni dan dikunjungi. Terkait kembali maraknya kritikan masyarakat dan seniman tentang pembangunan di Kota Jogja, dirinya bisa menerima. “Selama kritik itu membangun, saya terima,” ujarnya. (*/laz)
Selama Kritik Membangun, HS Menerima

Boks