Gusti Yudha Pesan Wacinwa Tidak Hilang Ditelan Zaman

JOGJA – Usaha pelestarian kesenian tradisi terus dilakukan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ. Melalui Museum Sonobu-doyo Jogjakarta, Disbud DIJ mengangkat kekayaan Wayang China Jawa atau Wacinwa. Ke-kayaan akulturasi Tiongkok dan Jawa ini dikemas dalam pame-ran di Jogja Galeri.Pameran bertajuk Wacinwa Silang Budaya China-Jawa me-nyajikan ratusan wayang
Wayang ini terpampang di dinding Jogja Galeri hingga 10 Oktober mendatang. Wayang ini merupa-kan karya dari seorang Gan Thwan Sing pada medio tahun 1925.”Ini merupakan ragam ke-kayaan seni budaya yang wajib kita jaga. Pada kenyataannya memang tidak banyak yang tahu tentang pusaka ini. Maka kita wajib mengenali, menjaga dan melestarikan kekayaan ini,” ujar Kepala Disbud DIJ GBPH Yud-haningrat saat pembukaan pa-meran kemarin (3/10).
Gusti Yudha mengungkapkan, kekayaan ini bukti bahwa kema-jemukan di Jogjakarta sangatlah indah. Meski berlatar belakang Tiongkok, dapat berkolaborasi dengan kebudayaan Jawa. Ter-lebih dalam penggunaan ba-hasa dan cara pementasan.Bahkan salah seorang pange-ran Keraton Jogja ini mengung-kapkan kekagumannya terhadap jenis wayang ini. Menurutnya, sang pencipta wayang Gan Thwan Sing adalah seorang yang bri llian. Ia mampu menghadirkan kese-nian yang mengikat persau-daraan antara warga Tionghoa dan Jawa pada waktu itu.
“Perlu kita kembangkan dan jaga lagi dengan sebuah riset. Jangan sampai kesenian ini hilang ditelan zaman. Selain sebagai benda pusaka seni, Wacinwa juga saksi sejarah bagaimana hubungan warga Tionghoa dan Jawa,” katanya.Sementara itu Kepala Museum Sonobudoyo DIJ Riharyani meng-ungkapkan, pameran temporer ini perdana. Museum Sonobu-doyo berpameran tunggal dengan menampilkan kekayaan pusaka. Uniknya dalam pameran kali ini, tidak semua tokoh memi-liki nama. Ini karena keterbata-san informasi dan pengetahuan tentang wayang ini. Dari ratusan tokoh, baru beberapa yang di-ketahui namanya.
“Dengan adanya pameran ini, maka harapannya informasi bisa terungkap. Baik itu dari pengunjung atau pemerhati seni budaya lainnya. Bahkan keturunan langsung seperti nyonya Gan Sioi Han (66) Gan Sioi Ing (64) turut hadir,” katanya.Sementara itu kurator pameran Hanggar Budi Prasetya mengung-kapkan, di dunia hanya ada dua koleksi wayang ini. Selain di So-nobudoyo Jogjakarta, wayang ini juga dikoleksi Dr Walter Angst di Yberlingen, Bodensee, Jerman.Hanggar menuturkan wayang ini bisa sampai di Jerman di-bawa oleh Dr. F. Seltmann. Pria ini membawa ratusan wayang pada awal tahun 1960-an. Ba-rulah saat Seltmann meninggal, ratusan wayang ini dibeli oleh Walter.
Meski begitu kedua koleksi ini berbeda dalam hal jalan cerita. Jika di Sonobudoyo tokoh uta-manya Sie Jin Kui bercerita saat invasi ke timur, sedangkan di Jerman bercerita tentang invasi ke barat.Pameran ini, lanjutnya, meru-pakan upaya konkrit pelestarian. Ini karena pelestari kesenian terputus di tengah jalan. Penye-babnya adalah meninggalnya sang pembuat Gan Thwan Sing dan keempat murid peenrusnya.”Menjadi sebuah dilema ketika penerus langsungnya ini mening-gal semua. Ada Kho Thian Sing, R.M. Pardon, Megarsewu, dan Pawiro Buang yang meninggal mendahului Gan Thwan Sing. Maka pameran ini merupakan salah satu usaha kita untuk meng-gali kembali,” ungkap Hanggar. (dwi/laz/gp)

Jogja Utama