JOGJA – Jiwa Korsa secara dewasa dan taat hukum sangatlah penting. Itulah sepenggal sambutan Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI MS Fadhilah dalam kesempatan olahraga bersama TNI-Polri yang berlangsung di Batalyon 403/Wirasada Pratista, kemarin (25/9).
Danrem mengingatkan bahwa banyak rakyat yang membutuhkan TNI-Polri demi terciptanya situasi kondusif. Jiwa Korps Satuan (Korsa) versi Danrem 072/Pamungkas adalah sikap kesatuan yang dilandasi kedewasaan, kecerdasan emosi dan patuh terhadap konstitusi. Itulah yang ditekankan terhadap seluruh personel angkatan, TNI AD, AU, AL dan Polri di wilayah DIJ.
“Dalam satuan apapun di dunia ini, jiwa Korsa menjadi napas prajurit. Saya berharap, TNI-Polri di DIJ memegang teguh jiwa korsa itu dengan sikap dewasa dan taat hukum,” tandas Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI MS Fadhilah kemarin (25/9).
Munculnya konflik dua kelompok satuan, salah satunya disebabkan oleh aplikasi jiwa Korsa yang kebablasan. Agar menjadi kontrol, diperlukan kedewasaan dan patuh terhadap hukum. Terlebih secara kearifan lokal, Jogjakarta merupakan kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan budaya luhur.
“Saya rasa ketika hubungan TNI-Polri di DIJ kuat, rakyat akan bangga. Bukan malah menciptakan sorotan negatif,” tegasnya.
Suasana di lapangan Batalyon 403/Wirasada Pratista mencair ketika 1.027 personel TNI AD, AU, AL dan Polri bergabung jadi satu. Bahkan, awalnya mereka duduk berkelompok per satuan. Melihat hal itu, Danrem menginstruksikan agar membaur menjadi satu. “Tolong duduknya tidak per satuan, jadi satu ya. Nanti bisa tuker-tukeran nomor HP. Kan jadi banyak teman,” pintanya.
Pada kesempatan itu, selain Danrem 072/Pamungkas, juga dihadiri Kapolda DIJ Brigjen Pol Oerip Subagyo. Serta seluruh pimpinan masing-masing satuan. Seluruh prajurit diberi kesempatan menyampaikan gagasan, masukan dan saran terhadap atasan mereka.
Salah satunya dari Peltu Sugito dari satuan Korem 072/Pamungkas. Secara khusus ia mengajukan pertanyaan ke Kapolda DIJ mengenai ketertiban berlalu lintas. Dari pengalamannya, masih ada pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Padahal, hukum berlaku untuk semua warga masyarakat tanpa terkecuali. “Jangan takut (Polisi), kami TNI ada di belakang kalian dan siap mendukung,” kata Sugito.
Kapolda DIJ pun secara tegas menjawab bahwa adanya pelanggaran berlalulintas karena kesadaran hukum masyarakat belum sepenuhnya merata. Sebagai contoh Jogja menjadi kota tujuan pendidikan, tentu banyak pelajar dan mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru tanah air. Praktis mereka membawa budaya masing-masing, termasuk perilaku berkendara.
“Prinsipnya hukum berlaku untuk semua. Dalam persoalan ini, kami melihat Jogja yang istimewa, tentu kami memiliki strategi mulai dari persuasif, edukasi sampai pada tindakan hukum yang tegas,” jawabnya. (fid/ila)

Jogja Utama