JOGJA – Kejujuran dalam berkarya men-jadi hal yang mutlak bagi seorang seniman. Setiap karya yang ditampilkan dapat mere-presentasikan sebuah makna yang ingin diangkat. Hal ini pula yang menginspirasi Arif Hanungtyas Sukardi, Ersa Budi Faisal, Helmy Fuadi dan Herru Yoga untuk meng-gelar Why Not To (Be) Honest.
Pameran yang digelar di Jog-ja Gallery ini menyajikan tema tentang kejujuran, di mana se-tiap seniman muda ini mere-presentasikan makna kejujuran menurut persepsi mereka. Ter-hitung ada sekitar 45 frame lukisan yang terpajang di din-ding Jogja Gallery.”Tema ini mengajak kita berpikir untuk memaknai apa itu kejujuran. Tentunya di era seperti saat ini kejujuran itu memiliki banyak makna. Benturan makna hingga perbedaan juga dapat melahirkan pemaknaan yang lebih dalam,” kata Hanung kemarin.
Hanung memaknai tema ini dengan karya yang unik dan berbeda. Pria lulusan Pendidikan Seni Rupa UNY ini mengangkat hiu sebagai objek lukisan. Di-pilihnya hewan predator laut ini sebagai simbolis dari insting naluri hewan.Menurutnya, insting naluri hewan merupakan wujud dari kejujuran. Naluri ini lahir dengan wujud spontanitas dan tanpa ada rekayasa. Inilah yang men-jadi perbedaan antara hewan dengan manusia dari segi nalu-ri kejujuran.
“Saat hiu merasa tidak nyaman, maka akan langsung diungkap-kan melalui nalurinya. Tidak disembunyikan, dilebihkan ba-hkan dikurangi. Apa yang hiu rasakan pun akan terwujud lang-sung,” kata Hanung.Dipilihnya hiu sebagai objek lukisan juga memiliki makna lain. Hanung memiliki kepedu-lian tinggi terhadap kelestarian hiu. Ini karena tingkat perburu-an hewan penguasa laut ini ma-sih tinggi. Sedangkan dari sisi populasi semakin menurun.”Ini juga wujud kejujuran hati tentang apa yang dirasakan. Ter-lebih terhadap keadaan sekitar manusia. Hiu hanyalah salah satu objek kecil, masih banyak kekayaan bumi lainnya yang perlu kita perhatikan,” ungkapnya.
Aksi yang sama juga dilakukan Erza dengan mengangkat objek anak kecil. Menurutnya, anak ekcil adalah sosok yang sangat jujur dalam kehidupan. Baik itu hal yang positif maupun negatif, anak tak pernah menutupi pe-rasaan hatinya.Dalam karyanya kali ini, Erza menghadirkan anak ekcil dalam setiap lukisannya. Meski tema yang diangkat bernada kritis, anak kecil selalu hadir dalam setiap bingkai lukisannya. Bahkan warna-warna yang cerah mene-mani objek lukisan karyanya.
“Celoteh anak anak itu jujur dan tanpa tendensi, sehingga sangat pas untuk menggambar-kan kondisi saat ini. Rasa keju-juran itu semakin langka dan sulit ditemui. Bahkan bisa dibi-lang serba terbalik antara jujur dan bohong,” kata pria yang akrab dengan nama Erza Q Pop ini.Pameran empat perupa muda ini berlangsung hingga besok (20/9). Selain di lantai bawah, karya-karya para seniman ini juga tersaji di lantai atas Jogja Gallery. Lukisan-lukisan yang dihadirkan pun beragam sesuai karakteristik setiap seniman. (dwi/laz/gp)

Jogja Utama