KANTIN sekolah MAN 2 Jogjakarta siang itu tampang begitu lengang. Hanya beberapa orang guru tampak terlihat sedang menyantap makanan yang telah dipesan.Dari beberapa orang guru yang ada di kantin tersebut, tampak Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Anita Isdarmini Yasin sedang bersama seorang guru. Sepertinya kedatangan Radar Jogja sudah ditunggu.Setelah mempersilakan duduk, Anita segera bergegas berpamitan meminta izin untuk memanggil siswa yang sedang mengikuti pelajaran. Tak beberapa lama, tampak seorang siswa berkemeja batik dengan celana abu-abu datang menghampiri.Dialah Kurnia Ikhlasul Amal. Tubuh Kurnia terlihat gempal. Tapi tidak gemuk.Raut wajahnya terlihat masih kekanak-kanakan. Namun cara bicaranya cukup rapi dan tertata dengan baik.Amal, sapaan akrabnya, merupakan satu dari beberapa siswa yang beruntung dapat berkunjung ke istana negara atas jamuan presiden.Dia menceritakan, untuk bisa hadir di tempat tersebut, setidaknya harus bersaing dengan 6800 peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Dari jumlah tersebut, hanya 12 siswa dari SD sampai SMA sederajat saja yang terjaring. “Ketika itu, ada tim dari pusat yang menilai dan melakukan tes,” kata Amal kepada Radar Jogja mengawali perbincangan.Tes yang dilalui berupa tes wawancara. Sementara tim penilai juga melakukan penilaian terhadap karya tulis dan latar belakang prestasi yang sudah diraih.Ia menyebutkan berbagai prestasi yang pernah diraih dirinya. Prestasi yang disandang Amal, antara lain penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia 2013 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Selan itu, dia juga pernah menerima penghargaan dari Sri Sultan HB X dalam menyuarakan hak-hak anak.
Prestasi berikutnya, menjadi Duta Anak Provinsi DIJ, menjadi Duta Anti Korupsi, Juara 1 lomba pramuka tingkat kota, serta juara harapan 1 lomba teater kreativitas remaja. “Karya tulis yang saya kirimkan untuk bisa bertemu dengan presiden mengenai anak,” jelasnya.lebih jauh siswa XI IPS 2 ini menuturkan, kesempatan bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut terjadi pada 2013 silam. Dan pada upacara peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke-69 Agustus kemarin, dirinya diberi kesempatan untuk kembali lagi ke istana negara.Ia menceritakan pengalaman berkesan selama berkunjung ke istana negara selama lima hari. Salah satu yang berkesan adalah ketika ditunjuk menjabat sebagai presiden oleh staf istana. Tentunya bukan presiden yang sesungguhnya. Tapi Amal diminta melakukan aktivitas yang dilakukan presiden sehari-hari.Kegiatan tersebut merupakan kegiatan orientasi pengenalan istana negara. Di sana para siswa yang terpilih berpraktik kegiatan kepresidenan di dalam istana. Dari semua siswa tersebut, selain Amal yang menjabat menjadi presiden, siswa lainnya menjabat sebagai para menteri.Dalam kegiatan tersebut, siswa mempraktikan kegiatan presiden mulai dari menerima tamu, hingga memimpin rapat kabinet.
Selama lima hari tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk berinteraksi dan melihat kegiaan presiden. Sejumlah kegiatan dilakukan, sepertiolahraga bersama presiden, morning brief, sidang kabinet, menanam pohon, makan malam, makan siang, serta diskusi di ruang pribadi.Dalam diskusi, para siswa dipersilakan bertanya apa saja dengan Presiden SBY. “Ketika itu saya bertanya bagaimana menyikapi orang-orang yang kontra,” jelasnya.Saat diskusi pribadi, SBY juga memberikan pesan kepada siswa untuk tidak putus sekolah. Siswa diminta untuk belajar yang rajin dan patuh dengan orang tua.Sementara pada kegiatan Kopdar Istura 17 8 45 tahun ini, Amal juga berkesempatan menyaksikan acara parade senja dan penurunan sang saka merah putih.Pada kegiatan tersebut, pengagun politikus PDIP Pramono Anung ini berksempatan menyaksikan parade budaya dari seluruh Indonesia di istana negara. “Kegiatan Kopdar Istura untuk mendekatkan diri presiden dengan masyarakat. Ketika itu sata hanya salaman dengan Pak SBY,” jelasnya.
Terpilihnya Amal sebagai wakil dari DIJ, menandakan bahwa siswa madrasah bisa berprestasi. Amal mengaku memilih madrasah karena mendapat porsi pendidikan agama yang lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum.Meski masih sekolah, Amal mengaku senang dengan kegiata-kegiatan sosial. Saat ini dia tergabung mengajar di sanggar anak-anak yang berada kawasan Bener bernama ‘Sanggar Cermin’Di sana, ia mengajarkan permainan tradisional, games modern dan membacakan dongeng dari buku-buku cerita. “Ini sekaligus belajar bersosialisasi dan mengenal orang,” kata pria yang bercita-cita menjadi politikus ini.Kesukaan terhadap aktivitas sosial memang terasah dari sang ayah, Christiono Irawan. Setiap ada fenomena sosial yang terjadi di media televisi, maka ia diminta sang ayah untuk memberi tanggapan.Maka tak heran, wawasan sosialnya kian hari kian terasah. “Kelak, saya ingin bisa turut andil dalam membuat kebijakan. Terutama menanggulangi kesenjangan sosial di masyarakat,” pungkasnya.( */jko)

Jogja Utama