SEMENTARA ITU, Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM meminta kepada empat tersangka kasus dugaan korupsi penjualan aset UGM mengundurkan diri. Baik dari jabatannya maupun sebagai dosen di UGM. Imbauan ini dilakukan untuk menjaga nama baik institusi pendidikan UGM, sekaligus menjaga etika tenaga pendidik. Sebab dosen merupakan profesi terhormat. “Teladani Anggito Abimayu. Saat Kementerian Agama diterpa isu korupsi haji, Anggito Abimanyu langsung mengundurkan diri,” kata Peneliti Pukat UGM Hifdzil Alim SH kemarin (18/6). Menurut Boy, sapaan akrab Hifdzil Alim, perkara korupsi yang menyeret empat pengurus Yayasan Fakultas Pertanian UGM (Fapertagama) yang juga dosen UGM telah mencoreng nama baik lembaga pendidikan, terutama UGM. Karena itu, Pukat mendukung langkah Kejati DIJ untuk mengusut dan menuntaskan perkara tersebut.
Pukat juga meminta jajaran pimpinan UGM lebih proaktif dengan kejaksaan demi terangnya perkara tersebut. “Tindak pidana korupsi dengan membentuk yayasan merupakan modus baru. Karena itu, UGM segera melakukan tracking atas semua aset yang dimiliki UGM,” tandas Boy. Direktur Pukat UGM Hasrul Halili mengatakan terkuaknya dugaan korupsi aset UGM membuktikan pengelolaan aset di kampus itu belum baik. Apalagi, modus yang dilakukan dengan cara menyembunyikan aset kemudian mengatasnamakan yayasan dan menjualnya ke swasta. “Ini bisa jadi pintu masuk perkara lain. Beberapa kali kami menyampaikan laporan ke universitas tapi sering dianggap remeh dan hanya diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Hasrul.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kejati DIJ menetapkan empat tersangka dalam kasus penjualan aset tanah UGM di Dusun Plumbon, Desa Banguntapan, Bantul. Seorang tersangka ialah guru besar yang pernah menjabat ketua Yayasan Fakultas Pertanian Gadjah Mada (Fapertagama) Prof Susamto MSc. Tiga tersangka lain yaitu Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Dr Triyanto, dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Ir Ken Suratiyah MS dan dosen Jurusan Budidaya Pertanian Ir Toekidjo. Ketiganya merupakan pengurus Yayasan Fapertagama.
Saat dihubungi melalui teleponnya, Prof Susamto mengatakan belum mendapat surat penetapan dirinya sebagai tersangka. “Saya belum dapat surat dari kejaksaan, baru tahu dari media. Silakan konfirmasi ke kuasa hukum atau humas UGM,” kata Susamto. Penasihat hukum Yayasan Fapertagama Heru Lestarianto SH mengatakan belum menerima surat pemberitahuan resmi mengenai penetapan status tersangka empat pengurus Yayasan Fapertagama. Namun demikian, pihaknya siap mengikuti proses hukum yang berlaku.
Saat disinggung status lahan yang dipersoalkan, Heru menerangkan tanah seluas 4.000 meter per segi itu bukan milik universitas melainkan yayasan. Pernyataan itu dikuatkan dengan adanya surat keterangan rektor yang saat itu dijabat oleh Ichlasul Amal. “Pembelian lahan itu dibiayai oleh sekelompok dosen. Surat rektor itu menyebutkan lahan tersebut bukan milik universitas,” kata Heru.
Terpisah, Kasi Penerangan Hukum Kejati DIJ Purwanta Sudarmaji mengatakan penyidik memiliki dua alat bukti yang cukup. Ia menyarankan kepada tersangka yang ingin melakukan pembelaan agar disampaikan saat persidangan nanti. “Untuk mengetahui mana yang benar, nanti akan diuji di pengadilan,” kata Purwanta. (mar/ila)

Jogja Utama