JOGJA – Dialog realitas kehidupan sosial politik dilakukan oleh sejumlah seniman di Bentara Budaya Jogjakarta. Bertajuk Kwolak-Kwalik, pameran seni rupa ini menyajikan karya syarat kritik sosial maupun politik. Pameran yang melibatkan lima pelukis ini menyajikan 20 karya.
Secara khusus pameran ini turut menyindir pejabat yang cenderung plin-plan. Hal ini diungkapkan oleh salah satu peserta pameran Yuli Kodo. Menurutnya sosok wakil rakyat yang harusnya mewakili sudah hilang esensinya.
“Jadi kebalik dimana esensi harusnya mewakili dan melayani rakyat justru rakyat yang melayani para wakil ini. Seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya dengan menyelewengkan tugas dan tanggungjawabnya,” kata Yuli kemarin (17/6). Pameran yang terdiri dari para alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) ini juga merupakan wujud dialog. Karya yang ditampilkan merupakan karya baru tahun 2014. Pemilihan tema sendiri juga menyambut tahun politik yang jatuh di tahun ini. Karya Yuli Kodo yang berjudul Dewi Keadilan sangat mencerminkan kondisi keadilan saat ini. Seorang perempuan ditutup matanya dengan kain putih. Sementara disekelilingnya banyak anak kecil menyodorkan uang, pistol mainan. “Wujud keadilan dan kedamaian yang tidak memihak. Tapi di sisi lain justru kerap ada kambing hitam yang dikorbankan. Inilah fenomena yang lumrah saat ini,” kata Yuli.
Seorang peserta lainnya Yoyok Sahaja mengungkapkan dialog berwujud seni merupakan alternatif. Saat ini, menurutnya, dialog sosial dan politik yang dikemas formal justru menghasilkan ketegangan syaraf. Sedangkan dengan karya seni akan membuka sudut pandang yang lain. “Cara pandang yang berbeda tapi dengan esensi yang sama. Tidak harus menyikapi dengan tegang dan kasar tapi bisa lembut dengan karya seni,” kata Yoyok. Yoyok menambahkan karya-karya para pelukis ini terinspirasi dari permasalahan sosial dan politik. Inspirasinya dengan menangkap realitas politik, ekonomi, sosial dan budaya yang penuh dengan dinamika positif dan negatif.
Para pelukis, lanjutnya, ingin menghidupkan kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Negara yang melimpah dari berbagai aspek ini digambarkan terpuruk. Ini terlihat dari beberapa lukisan yang menggambarkan kemunduran, kemiskinan, serta kesenjangan sosial masih begitu tinggi. “Ini adalah akibat dari penyelewengan yang dilakukan oleh pejabat saat ini. Banyak melakukan penyalahgunaan jabatan dan wewenangnya,” kata Yoyok.
Pameran yang berlangsung hingga 22 Juni ini melibatkan Andon Esty, Agung Gunawan, Budi Yonaf, Joko Atmaja Yoyok Sahaja dan Yuli Kodo. Karya yang disajikan terdiri dari multi genre, sehingga nampak keberagaman yang saling melengkapi. (dwi/ila)

Jogja Utama