SLEMAN – Bumi sebagai tempat berpijak manusia, saat ini semakin tua dan renta. Pemikiran ini diadaptasi oleh kelompok Teater Lilin Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) III, Babarsari Sleman dengan menggelar pementasan, Senin malam (28/4). Bertajuk Persembahan Untuk Bumi, kisah ini menceritakan keganasan manusia sebgai penghuni paling mulia di bumi.
“Manusia yang seharusnya diciptakan untuk menjaga justru juga menjadi perusak nomor satu. Eksploitasi dan eksplorasi berlebihan tanpa memikirkan efek jangka panjang. Padahal konsekuensi kerusakan tidak hanya dirasakan bumi tapi juga manusia,” kata sutradara pementasan, Evan Kristianus ditemui sebelum pentas.
Dalam cerita ini, teater Lilin mengungkapkan manusia masih sangat bergantung pada apa yang diberi alam. Seiring waktu berjalan, manusia mampu menciptakan berbagai penemuan dan teknologi. Selain memiliki dampak positif, ini juga membuat arogansi lebih menjadi-jadi.
Pemikiran ini oleh teater Lilin digambarkan ketika pertama kali manusia terbentuk. Dalam fragmen pertama ini menggambarkan, manusia yang belum berkembang sangat bergantung pada alam. Mengambil, mengolah dan memanfaatkan dari alam, tercermin dari sosok manusia dengan sosok dewi alam.
“Awalnya sangat tergantung, bahkan alam sangat mengayomi tapi semakin lama manusia menjadi rakus terhadap alam. Alam pun semakin lemah dan melawan melalui bencana-bencana alamnya,” kata Evan.
Pementasan ini sendiri terbagi menjadi empat fragmen pementasan yang memiliki jalan cerita yang mandiri. Fragmen kedua menceritakan tentang elemen alam api yang diperankan oleh sang sutradara, Evan. Dalam kesempatan ini, Evan menampilkan gerakan yang gesit dan membara layaknya nyala api.
Fragmen kedua ini bercerita tentang api yang bisa menjadi sahabat namun juga bisa merusak. Elemen yang merusak ini terlihat ketika adegan menyemburkan api. Evan menyemburkan api ke sebuah boneka manusia yang terbuat dari jerami.
Dalam pementasan ini, tata panggung sengaja dibuat dari jerami. Seluruh jerami yang menutupi panggung pementasan ini menggambarkan keadaan alam yang asri. Selain itu di sisi barat, ada sebuah bola dunia yang terbuat dari sampah plastik pembungkus mie instan.
“Elemen yang sangat berguna bagi manusia suatu saat juga bisa berbahaya. Fragmen ini juga untuk mempertontonkan bahwa manusia dalam melangkah sudah melenceng. Di sisi lain alam juga tidak berbicara, namun bertindak melalui kejadian-kejadian alam yang sudah terjadi saat ini,” kata Evan.
Selain fragmen elemen api, teater Lilin juga menampilkan fragmen elemen udara dan air. Sama halnya seperti elemen api, fragmen ini menyajikan manfaat dan juga akibat. Fragmen-fragmen ini merupakan penggambaran bumi sebagai sahabat dan juga pengingat bagi manusia.
Uniknya dalam pementasan ini, penonton yang dating dikenakan tiket masuk berupa bibit pohon. Bibit pohon ini nantinya akan ditanam di area kampus UAJY. Evan mengungkapkan penerapan tiket masuk berupa pohon ini sebagai jangka panjang kepedulian kepada alam.
“Merupakan investasi kepada alam, dimana saat kita berlaku positif pasti alam juga bertindak yang sama. Menjaga apa yang telah diberikan alam, dan tidak merusaknya merupakan salah satu tindakan yang bisa dilakukan,” kata Evan. (dwi)

Jogja Utama