* Musik Jadi Bahasa Pemersatu
SLEMAN – Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Kalimat ini pantas disematkan kepada Yok Koeswoyo. Legenda musik Indonesia yang tergabung dalam grup musik Koes Plus dan Koes Bersaudara ini masih telihat energik. Itu terlihat saat pentas di Boshe VVIP Club di Sleman Minggu (27/4) lalu. Pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, 3 September 1944 ini masih memperlihatkan keperkasaannya di atas panggung.
Bertajuk Koes Plus Night, pemilik nama lengkap Koesroyo Koeswoyo ini sukses memikat para pecinta musik Koes Plus maupun Koes Bersaudara. Tampil ditemani HOSS Band, Yok mampu membuat panggung Boshe terguncang. Beberapa penonton ikut naik ke atas panggung, mereka ikut menari atau sekadar berfoto bersama Yok.
“Senang sekali malam ini bisa bertemu dengan teman-teman dari Jogjakarta. Semangatnya heboh, bantu saya bernyanyi bersama ya,” ajak Yok kepada penonton yang hadir.
Beberapa tembang seperti Kolam Susu, Muda Mudi, Diana, Dara Manisku dengan lancar dibawakan oleh Yok bersama HOSS Band. Musik yang memiliki kemiripan dengan brith pop ini seakan membuat penonton yang mendengarkan turut berdendang. Belum lagi, tingkah Yok yang lari mengelilingi panggung Boshe.
Meski sudah memasuki usia lanjut, namun energinya seakan tak ada habisnya. Uniknya dalam pentas ini, setiap memainkan jeda satu atau dua lagu, Yok harus beristirahat di belakang panggung. Kepada penonton dirinya mengungkapkan perlu istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga.
“Saya pasrahkan sama yang muda-muda kalau pas istirahat. Nanti nyanyi lagu yang temponya slow saja ya. Soalnya kalau tempo yang cepat tenaga saya sudah enggak seperti dulu lagi,” kata Yok disambut tawa penonton.
Sejarah Yok dalam dunia bermusik sendiri sangatlah panjang, timbul tenggelam turut mewarnai perjalanannya. Berawal di tahun 1960, bersama saudara-saudaranya John Koeswoyo, Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, dan Nomo Koeswoyo dirinya mendirikan band dengan nama Koes Bersaudara.
“Music saat ini sudah jadi bahasa pemersatu segala perbedaan. Tentunya berharap generasi musik Indonesia terus berkembang dan mewarnai ragam musik Internasional. Bagaimana juga musik merupakan aset buat Indonesia,” pesan Yok. (dwi/ila)

Jogja Utama