JOGJA – Kesenian merupakan hal yang penting diajarkan sejak dini pada anak-anak. Beberapa anak muda dari Jogjakarta, Krisna, Mila Rosinta, dan Subarkah berangkat ke Kaliaget, Karawang Timur, Jawa Barat,
Mereka pergi untuk berbagi ilmu tentang berkesenian.Ketiganya dibantu sejumlah relawan dari Kaliaget yang mengajar di Sekolah Sawah.
Mila Rosita, yang bergabung dengan relawan Sekolah Sawah mengungkapkan, sekolah tersebut memiliki konsep unik. Di mana, ingin mengenalkan dan selaras dengan alam melalui berkesenian.
“Sekolah ini didirikan seorang pria dari Belanda bernama Mr. Paul dan istinya dari Indonesia Mrs. Tita. Sekolah Sawah sebagai tempat anak-anak belajar, khususnya seni dan budaya karena kedua hal ini merupakan salah satu tonggak penting,” papar Mila, Sabtu (19/4).
Dalam kesempatan tersebut, Mila dan dua temannya mengajarkan kesenian sesuai bidangnya masing-masing. Subarkah yang berprofesi sebagai composer mengenalkan musik pada anak-anak. Sedangkan Mila mengajarkan beberapa koreografi tarian yang bsia dipelajari anak-anak.
Mila memaparkan, selama mengajarkan anak-anak Kaliaget pada awal April ini, ia menemui banyak cerita. Kaliaget awalnya merupakan sentra lumbung padi terebsar di pulau Jawa. Seiring berjalannya waktu, para warganya memilih beralih profesi menjadi buruh atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
Alhasil, provinsi Jawa Barat yang awalnya melimpah karena banyak pasokan gabah, akhirnya turun drastis. Lahan-lahan produktif berubah menjadi kering dan sulit ditanami. Kekeringan lahan ini juga imbas, di mana awalnya petani setempat lebih sering menggunakan pestisida daripada organik.
“Pola pikir anak-anaknya pun sudah sedikit bergeser, di mana mereka ada yang tidak mau menjadi petani. Dalam kesempatan ini, kami mengajarkan bahwa menjadi petani itu penting. Terlebih, kami mengajarkan pada anak-anak untuk selalu dekat dengan alam,” papar Mila.
Hasil latihan selama April ini, nantinya dipentaskan pada Mei mendatang. Tepatnya pada 4 Mei dalam merayakan Hari Pendidikan Nasional. Dengan pentas ini, tiga anak muda Jogjakarta ini mengajarkan anak-anak tidak malu dalam berkomunikasi.
Mila menjelaskan, para warga di Kaliaget Karawang memiliki rasa traumatik pada orang asing. Ini berawal dari peristiwa G 30 S/PKI, di mana masyarakat Kaliaget mendapat intervensi dari pemerintahan waktu itu. Masyarakat setempat jarang berkomunikasi untuk menyampaikan ide-ide kreatif, khususnya di bidang seni dan budaya.
“Pendekatan yang digunakan melalui mengenalkan alam dan kesenian sebagai media pemupukan moral dan memunculkan anak bangsa yang kreatif. Tidak hanya masalah teori yang diajarkan, juga merasakan bagaimana harus menjaga alam dan mencintainya,” kata Mila.(dwi/hes)

Jogja Utama