BANTUL – Dunia berkesenian di Jogjakarta kembali berwarna dengan hadirnya sebuah galeri seni baru. Galeri ini adalah Nalarroepa Ruang Seni, yang beralamatkan di Karangjati, Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Galeri ini unik karena berdiri di tengah perkampungan, di antara hutan pohon jati.
Pemilik galeri, Dedy Sufriadi mengungkapkan, hadirnya galeri tersebut diharapankan bisa mewadahi kreativitas seniman Jogjakarta. Menurutnya, angka pertumbuhan seniman di Jogjakarta terbilang besar. Di mana, setiap tahun selalu lahir seniman baru yang siap mewarnai kesenian di Jogjakarta.
“Jogjakarta bisa dibilang gudangnya seniman. Saat ini, tak terhitung jumlah seniman yang lahir. Potensi-potensi ini perlu diwadahi dan harapannya Nalarroepa Ruang Seni menjadi alternatif baru untuk unjuk karya,” ungkap Dedy di Nalarroepa, kemarin (14/4).
Lebih lanjut, Dedy mengungkapkan, galeri seni ini sangat terbuka bagi seniman. Tidak hanya pelukis, ke depannya akan diproyeksikan untuk seniman pematung dan musisi. Tentu saja agar gema kesenian di Jogjakarta semakin terdengar.
Selain itu, Dedy menerapkan peraturan khusus bagi seniman yang ingin berpameran. Yakni, tidak ada biaya yang dibebankan pada seniman saat berpameran, namun dengan sistem subsidi. Subsidi ini untuk membantu pameran yang diadakan ke depannya.
“Mengusung konsep kerja bareng dan guyub antarseniman. Di mana rasa saling peduli dan keinginan untuk maju sangat penting. Kami buat kesenian di Jogjakarta menjadi lebih hingar-bingar lagi. Juga menjaga eksistensi agar seniman bisa rutin berkarya,” imbuh perupa kelahiran Palembang, 20 Mei 1976 ini.
Di tempat yang sama, Project Manager Nalarroepa, Emma Kismi Anna menambahkan, perupa butuh ruang yang representatif guna mengapresiasikan hasil karyanya pada publik seni dan peminat karya seni. Sementara ini, perupa mempersalahkan ruang seni yang sangat terbatas, sulitnya birokrasi, serta mahalnya biaya menggunakan fasilitas bagi mengapresiasikan karya atau publikasi karya terbarunya.
“Permasalahan ini dialami perupa pemula atau perupa yang mencari peminatnya. Nah di sini, Nalarroepa membuka peluang bagi perupa sebagai alternatif ruang guna memenuhi kebutuhan apresiasi,” imbuhnya.
Menurutnya, Nalarroepa bisa mengakomodasi kepentingan kerja kreatif. Selain publikasi, promosi dan dokumentasi, serta pengkayaan dari ruang seni yang sudah terdahulu.
Pembukaan perdana galeri direncanakan Selasa ini (15/4), dengan menghadirkan karya seniman Jogjakarta. Para seniman tergabung dalam kelompok Malam Jumat Keliwon Futsal (MJK) Club.
Total, ada 33 karya lukis dan patung yang merupakan karya dari 33 perupa Jogjakarta.
Penanggung jawab pameran Seno Andrianto mengungkapkan, pameran tersebut merupakan pameran yang membanggakan bagi mereka. Didaulat menjadi pembuka galeri, anggota MJK menyiapkan karya sematang mungkin.
Selain itu pameran bertajuk 50 : 50, juga diharapkan mampu mengguyubkan seniman lintas disiplin ilmu. Misi lain dari pameran, lanjut Seno, sebagai triggers awal penyelenggaraan turnamen futsal antarseniman. Acara ini sesuai semangat MJK saat pertama kali didirikan.
“Mengajak untuk guyub, tetapi dengan cara yang sehat yaitu turnamen futsal. Ini merupakan langkah awal, di mana turnamen dilaksanakan pertengahan Mei mendatang. Pameran ini juga sebagai bentuk kebahagian dan syukur berdirinya galeri baru untuk mewadahi seniman Jogjakarta,” kata Seno.
Dedy menambahkan, awal berdirinya galeri ini hanya sebagai ruang pamer pribadi. Saat bertemu teman sesama seniman, Dedy membuka galeri untuk umum. Selain berpameran, galeri ini juga dimanfaatkan menjadi ruang diskusi bersama.
“Jangan sampai api berkesenian di Jogjakarta padam, sekecil apapun harus diwadahi. Bahkan hanya kumpul bersama dan obrolan ringan bisa menjadi ide dan inspirasi dalam berkarya,” tegas Dedy.(dwi/hes)

Jogja Utama