Mengelola sebuah rusunawa tentu berbeda rasanya dengan hotel berbintang lima. Apalagi yang dikelola empat rusunawa sekaligus. Itulah yang harus dijalani Ahmad Sarbini.
Secara fisik bangunan rumah susun sederhana sewa memang mirip dengan hotel berbintang. Konstruksinya berupa bangunan bertingkat hingga lima lantai dengan pekarangan luas untuk fasilitas umum dan sosial.
Hanya, rusunawa tidak memiliki eskalator atau lift. Jadi, saat berinteraksi dengan para penghuni, pengelola harus rela sedikit mengeluarkan keringat untuk berolahraga naik turun tangga.
Ahmad Sarbini mengelola empat rusunawa, yakni di Dabag, Mranggen, Jongke, dan Gemawang. Total dihuni oleh 2.408 orang.
Di situ, Sarbini harus bisa menjalankan peran yang mirip dengan seorang kepala dusun, ketua RW, sekaligus ketua RT. Tak sekedar mengayomi warga, dia harus bisa menengahi dan memecahkan persoalan yang terjadi di rusunawa. Di sisi lain, Sarbini juga dituntut mampu mendongkrak pendapatan asli daerah bagi Pemkab Sleman. “Ya, itulah sebagian pekejaan saya sehari-hari,” ungkap Sarbini membuka percakapan dengan Radar Jogja akhir pekan lalu.
Berangkat pagi dan pulang menjelang malam adalah hal biasa. Apalagi, Sarbini baru tiga bulan menjabat kepala UPT Rusunawa. Banyak hal yang harus dibenahi, khususnya menyangkut keabsahan administrasi para penghuni. Tujuannya, agar rsunawa lebih tepat sasaran. Yakni diperuntukkan bagi warga berpenghasilan rendah yang telah berkeluarga, namun belum punya rumah.
Bagi Sarbini, hal utama yang diharapkannya adalah membuat para penghuni nyaman. Itu bisa terjadi salah satunya jika syarat administrasi terpenuhi. “Yang namanya komplain, itu biasa,” kelakarnya.
Pernah suatu kali Sarbini diprotes oleh pejabat yang dulu bisa memasukkan seseorang menjadi penghuni rusunawa. Namun, itu tidak lagi terjadi di bawah kendali Sarbini. Tekanan demi tekanan datang dari banyak kalangan tak menyurutkannya membangun hunian rusunawa secara kultur sosial. Terlebih, sebagian besar penghuni rusunawa bukanlah warga setempat dimana bangunan didirikan. “Ada yang tidak puas, ya, silahkan saja. Saya, kan menjaga lingkungan juga. Supaya penghuni rusunawa bisa berinteraksi baik dengan warga setempat,” jelasnya.
Banyak hal sensitif yang terjadi di rusunawa. Misalnya, mobil-mobil bagus seharga ratusan juta yang kerap keluar masuk atau terparkir di halaman rusunawa. Itupun bisa menyebabkan dikomplain warga maupun penghuni. Sebab, pemilik mobil bisa dibilang dari kalangan orang mampu, sehingga tidak pas menjadi penghuni rusunawa. “Tidak tahunya ternyata tamu. Boleh saja tamu bawa mobil dan menginap,” katanya.
Tidak mungkin pemilik mobil bagus lolos dari pengawasan pengelola rusunawa. Sarbini menjamin hal itu. Pelan tapi pasti, dia bakal menerjunkan tim menelusuri kondisi ekonomi keluarga para penghuni rusunawa. Itu untuk mencari bukti keabsahan penghuni. “Saya tidak ingin memutus ssuatu tanpa bukti. Tapi, ya, satu-satu, semua akan tampak,” ucap pria berambut cepak itu.
Terkadang atau bahkan sering, Sarbini tampak nongkrong di kantornya malam-malam. Tak hanya di Dabag, yang menjadi kantor utamanya. Secara giliran, Sarbini juga meronda di tiga rusunawa lain. Itu dilakukannya secara acak. Bahkan, kadang tanpa sepengetuan petugas sekuriti.
Baginya, itu juga bagian dari pekerjaan. Sarbini ingin mengetahui suasana malam di rusunawa. Dia tidak ingin ada penghuni bertindak tidak senonoh. Atau menyalahgunakan fungsi rusunawa.
Diakuinya, banyak penghuni merasa nyaman karena jika ada sesuatu yang harus dikomplain bisa disampaikan langsung. Namun, ada juga penghuni yang risih karena merasa selalu diawasi sehingga tak bebas. “Silahkan penghuni bilang terus terang jika ada persoalan apapun,” pintanya.
Dari kebiasaan ngantor malam itu Sarbini mendapati ada penghuni yang biasa pulang tengah malam. Pernah juga dia memperoleh aduan dari dua penghuni yang adu mulut gara-gara beda pendapat. “Di sini, apapun bisa memicu kecemburuan sosial. Makanya pengelola harus pandai ngemong semua penghuni,” tekadnya.
Sebagai orang yang dituakan di rusunawa, tidak henti-hentinya Sarbini mengingatkan calon penghuni. Saat mendaftar, mereka harus memahami dan melengkapi semua persyaratan. Perjanjian kontrak jangan asal diteken, tapi dibaca dulu secara detil. Itu demi meminimalisasi komplain lantaran penghuni tak paham aturan setelah resmi menempati rusunawa.
Mengenai target pendapatan, tidak ada persoalan bagi Sarbini. Dia meyakini, makin tertib administrasi, tingkat hunian rusunawa pun berpotensi meningkat dengan tepat sasaran penghuni. “Selama ini target terpenuhi dan meningkat,” klaimnya.(*/din)

Jogja Utama