SLEMAN – Tiga caleg PAN, Ahmad Hanafi Rais (DPR RI), Marthia Adelheida (DPRD DIJ), dan Suhardianto (DPRD Sleman) menyambangi warga lereng Merapi di Dusun Tritis, Girikerto, Turi kemarin (3/4). Tak sia-sia mereka hadir di kawasan yang berjarak kurang dari lima kilometer dari puncak Gunung Merapi untuk berdialog dengan warga setempat. Ternyata, sebagian audiens belum benar-benar paham tentang tata cara pencoblosan surat suara.
Nah, dialog dengan model pangkur jenggleng ala tiga kader partai matahari putih bersinar cukup gayeng menghibur hadirin yang hamper semuanya ibu-ibu rumah tangga. Hanafi yang tampil sebagai pembicara pertama menanyakan apakah abu-ibu tahu cara mencoblos, mereka menjawab serempak sudah tahu. “Yang dicoblos apanya,” kata Hanafi. Dengan suara koor para ibu menjawab, ” gambarnya”.
Dari tiga caleg tersebut lantas membagikan contoh surat suara sambil memberi contoh cara mencoblos. Hanafi menegaskan bahwa pencoblosan gambar hanya untuk surat suara DPD yang berlabel warna merah. Sementara untuk surat suara DPR RI berlabel kuning, DPRD Provinsi biru, dan DPRD Sleman hijau. Masing-masing surat suara tak ada gambar. Karena itu, sambil memberi contoh cara membuka surat suara, Hanafi mengimbau ibu-ibu mencoblos nama masing-masing caleg PAN bernomor urut 1 untuk tiga surat suara tersebut.
“Buka surat suara, jempol tangan tengen niki pas ting gambar srengenge mlethek, niku PAN. Njuk pilih caleg sing nomer setunggal. Coblos pisan mawon,” ajak Hanafi yang selalu berkomunikasi dengan bahasa Jawa halus.
Sebelum membuka surat suara, Hanafi meminta audiens berdoa dan berniat agar pemilu menghasilkan perubahan yang baik untuk Indonesia, minimal dimulai dari Turi, Sleman, dan Jogjakarta. Hanafi juga mengingatkan calon pemilih agar mengecek surat suara. Jika ada surat kertasnya cacat harus dikembalikan agar suara yang dicoblos sah.
Eling nggih, tanggal 9 niku libur. Coblosan jam sanga dugi setunggal siang. Ampung kesupen srengenge mlethek, caleg nomer urut setunggal,” tandasnya.
Sementara Marthia Adelheida meminta dukungan dan doa restu masyarakat lereng Merapi pada 9 April 2014. “Semoga kami bisa menjadi wakil bapak ibu di dewan. Untuk mewakili kepentingan masyarakat,” ucapnya.
Selanjutnya, dialog singkat sekitar seperempat jam lebih banyak diisi diskusi. Adel, sapaan Marthia Adelheida, mengingatkan warga agar tak mudah terpengaruh berita negatif di televisi tentang anggota dewan. Diakuinya bahwa stasiun televisi banyak mewartakan tokoh publik dan pemerintahan korupsi. Itu faktanya. Tapi, Hanafi dan Adel minta agar masyarakat tak gebyah uyah (pukul rata) memandang dewan jelek.
“Kita harus husnudzon kepada Allah. Nggak mungkin Allah ciptakan manusia jelek semua. Pasti ada yang baik. Insyaallah pemilu kali ini melahirkan wakil-wakil yang baik,” paparnya. (yog/ila)

Jogja Utama