JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menegaskan, dirinya tidak akan mengubah skema maupun filosofi permainan, sekalipun tim-tim lawan di kompetisi BRI Super League 2025/2026 memiliki karakter permainan berbeda-beda. Konsistensi dalam filosofi dan karakter menjadi sebuah fondasi penting dalam proses membangun tim yang stabil.
Van Gastel menyebutkan, salah satu prinsip utama yang ingin ia tanamkan adalah penguasaan bola sebagai cara mengontrol jalannya pertandingan. "Saya menginginkan sebuah tim yang stabil, dan mereka bisa mengontrol bola juga jalannya pertandingan," ujar Van Gastel Selasa (25/11).
Pelatih asal Belanda ini mengakui, ketika kali pertama dirinya datang ke Jogja, PSIM sudah memiliki gaya bermain tersendiri. Karena itu, ia melakukan proses transisi dengan mengombinasikan karakter lama dan filosofi baru yang ia bawa dari Eropa.
"Sebelum saya datang ke PSIM, tim ini sudah punya gayanya sendiri. Lalu saya coba lakukan transisi di beberapa hal, termasuk penguasaan itu," ungkapnya.
Diakui, salah satu fokus utama yang ia benahi adalah kecenderungan pemain asing cukup mudah kehilangan bola pada fase awal kepelatihannya. Ia menekankan pentingnya kedekatan jarak antarpemain, pergerakan tanpa bola, dan efektivitas membaca momen permainan.
"Awalnya pemain banyak kehilangan bola dengan mudah. Saya ingin menghindari masalah seperti itu. Filosofi yang saya mau adalah passing game," terangnya.
Lebih jauh mantan pelatih NAC Breda itu menegaskan, penguasaan bola bukan sekadar soal durasi memegang bola. Melainkan tentang efektivitas dan kecerdasan pemain membaca situasi serta mengalirkan bola.
"Ini bukan hanya soal menguasai bola, tapi juga pemain harus kuat bergerak, menghindari lawan dan paham momen untuk oper," bebernya.
Secara gamblang Van Gastel memastikan ia akan tetap mempertahankan prinsip itu, apa pun hasil pertandingan yang dijalani PSIM ke depan.
"Persiapan dan permainan kami sama di setiap pertandingan. Sekalipun saya menang 10 kali secara beruntun atau kalah 10 kali secara beruntun, saya tidak akan mengubah skema atau metode bermain saya," tegasnya.
Menurutnya, filosofi sepak bola tidak bisa diubah hanya karena hasil sementara di lapangan. Baginya, filosofi dan karakter tim jauh lebih kompleks dan tidak bisa serta merta diubah hanya dari hasil satu atau dua pertandingan.
"Di filosofi permainan yang saya jalankan, saya tidak bisa mengubahnya hanya karena saya menang atau kalah," ujarnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun