RADAR JOGJA – Pecatur Muhammad Kahfi Maulana menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi kontingen Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. Bukan hanya satu. Kahfi bahkan sukses mempersembahkan dua medali emas sekaligus.

ANA R DEWI, Sleman, Radar Jogja

KAHFI turun di tiga nomor. Yakni, catur cepat, catur kilat, dan catur standar. Dua emas didapat dari nomor catur cepat dan catur standar. Sementara sekeping medali perunggu lewat catur kilat. Hasil tersebut jauh melebihi target yang dibebankan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIJ. “Target KONI DIJ satu medali emas,” kata Kahfi kepada Radar Jogja kemarin (20/10).

Namun, untuk target pribadi sejak awal pecatur 22 tahun itu memang membidik dua medali emas. “Alhamdullilah sesuai target saya sendiri di nomor cepat dan klasik itu emas,” ujarnya. Bagi Kahfi, capaian ini tentu sangat luar biasa. Sebab, di PON XIX Jawa Barat 2016 silam dia gagal membawa pulang medali.

Prestasi ini dipersembahkan secara khusus untuk orang-orang spesial; orang tua, pelatih Bima Triardi, hingga sang pacar. Juga seluruh masyarakat DIJ yang telah mendukung dan mendoakan. “Anggap buah hasil dari latihan yang cukup melelahkan. Medali ini juga untuk mengangkat derajat catur DIJ yang dianggap sebelah mata di tingkat nasional,” bebernya.

Lantas, daerah mana saja yang menjadi pesaing terberat di PON? “Paling berat Yoseph Taher dari Papua dan Arif Abdul Hafiz dari Jawa Barat. Tapi Alhamdullilah bisa diatasi semua,” ungkapnya dengan bangga.

Meski berhasil menyabet dua emas, ternyata Kahfi menilai medali yang paling sulit didapat justru dari kategori catur kilat. Alasannya? Karena anak kedua dari tiga bersaudara itu mengaku jika dirinya termasuk pecatur yang slow hands. Sehingga dengan waktu pikir yang terbatas, raihan medali perunggu tersebut sudah sangat dia syukuri.

Di sisi lain, untuk mencapai di titik ini tentu bukan perkara gampang. Ada pengorbanan dan perjuangan luar biasa yang dilalui Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Teknik Elektro itu. Baik waktu, tenaga, dan pikiran. Kahfi menyebut persiapan selama pemusatan latihan daerah (Puslatda) terbilang cukup padat. “Pola latihan waktu masih kuliah offline sehari empat jam-an minimal,” jelasnya. Nah, saat pandemi Covid-19 yang mengharuskan dirumah saja, porsi latihan ditambah menjadi 6-8 jam per hari.

Atas prestasi gemilang itu, bonus besar menanti Kahfi. Sebab, di PON kali ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ melalui KONI DIJ telah menyiapkan reward atau hadiah bagi para atlet yang berprestasi membawa medali. Dengan rincian peraih medali emas perorangan akan mendapat Rp 200 juta. Kemudian perak Rp 100 juta dan perunggu Rp 50 juta. Sehingga jika ditotal Kahfi bakal menerima Rp 450 juta. Dan, menjadi atlet peraih bonus terbesar di PON edisi kali ini.

Soal bonus tersebut, pecatur kelahiran Jogjakarta 26 Juni 1999 itu ternyata sudah punya rencana ke depan. Bonus berlimpah yang diterima akan digunakan untuk mengikuti turnamen catur di luar negeri. Seperti Vietnam dan Thailand. “Rencana setelah pandemi ikut turnamen. Untuk tanggal biasanya diadakan Maret-April. Tapi belum tentu ada karena tahun ini dibatalkan efek pandemi,” paparnya.
Sembari flashback, Kahfi bercerita awal mula tertarik belajar catur dimulai sejak berusia sembilan tahun. Atau tepatnya saat duduk di kelas 3 SD. Menariknya, bukan orang tuanya lah yang mengenalkan Kahfi kecil dunia catur. Melainkan tetangganya. “Kebetulan dikenalin sama tetangga, lalu sampai rumah minta dibelikan catur dan dimasukkan ke sekolah catur,” kenangnya.

Sejak saat itu, ia mulai menekuni catur. Mengasah skill di tempat latihan hingga sukses seperti saat ini. “Malah nyantol main catur sampai sekarang. Padahal orang tua tidak bisa main catur sama sekali,” terangnya. Yang pasti, Kahfi sangat bersyukur bisa mengenal catur. Menurutnya, catur benar-benar mengubah hidupnya.

Terlebih, bisa berprestasi di multievent empat tahunan itu merupakan cita-cita yang menjadi kenyataan. “PON ini event tertinggi karena saya memang jarang ikut turnamen, lebih fokus kuliah dulu waktu sebelum pandemi. Makanya alasan tidak punya gelar juga karena jarang turnamen padahal tiap hari hobi belajar catur,” tambah dia.(din)

Jogja Sport