RADAR JOGJA – Direktur Utama PT PSS Marco Gracia Paulo mengakui tim memasuki masa sulit. PS Sleman mengawali kompetisi BRI Liga 1 2021/2022 dengan langkah tertatih. Hanya mampu meraih satu kemenangan, PSS tertahan di zona bawah.

Tak hanya itu, Marco juga mendapat tekanan dari Sleman Fans. Termasuk desakan untuk memberhentikan pelatih Dejan Antonic. Ini karena PSS terseok menduduki peringkat 15. Hasil dari putaran pertama dengan enam pertandingan awal hanya mampu meraup enam poin. Posisi saat ini hanya satu strip di atas zona degradasi.

Kinerja pelatih Dejan Antonic dipertanyakan. Meski membawa PSS menduduki peringkat tiga di turnamen pramusim Piala Menpora 2021, namun Sleman Fans tetap menginginkan Dejan dipecat. Imbas belum diraihnya peringkat papan atas liga hingga saat ini.

Tidak hanya tekanan untuk memecat pelatih, Marco Gracia juga didesak mundur oleh Sleman Fans. Menariknya, entah kenapa pemain belakang Arthur Irawan juga ikut menjadi sasaran untuk di-out.

Marco menuturkan PSS memang berada pada situasi sulit. Sebelum kompetisi, suporter pun sudah mendapat penjelasan dari Marco bila tim diprediksi memulai kompetisi secara tidak mudah. Dampak dari persiapan yang terlambat.

“Saya tetap percaya PSS. Namun harus diakui ini memang masa sulit bagi PSS. Meski demikian, saya optimistis PSS akan menyelesaikan ini dan maju lagi bersama,” kata Marco, Kamis (14/10).

“Hal ini sesungguhnya sudah saya sampaikan kepada teman-teman suporter. Kami melakukan pertemuan sampai tiga kali, termasuk dengan Pak Sismantoro (mantan manajer PSS). Saya katakan langkah kami bakal berat di awal kompetisi karena persiapan kami terlambat,” ujar dia lagi.

Menurut Marco seperti dalam unggahan video di akun IG-nya, Selasa (12/10). Pembicaraan dengan suporter termasuk detil karena mengupas strategi dan peluang mendapat poin dari sejumlah pertandingan PSS. Saat itu, suporter bisa memahami dan mendukung tim sehingga tidak ada permasalahan saat PSS mengarungi kompetisi.

PSS memang melakukan start kurang bagus. Sempat menerbitkan harapan setelah menahan Persija Jakarta 1-1 di laga pertama, PSS dikalahkan Persiraja Banda Aceh 3-2. PSS akhirya menang 2-1 atas Arema FC. Namun mereka kemudian menelan kekalahan dari Madura United dan Persebaya Surabaya.

Hasil buruk saat melawan Persebaya membuat Sleman Fans kecewa. Kinerja Dejan dinilai tak memuaskan sehingga mereka mendesak pelatih asal Serbia itu diberhentikan. Apalagi tren buruk tim belum berakhir setelah ditahan Persik Kediri 0-0 sehingga PSS gagal keluar dari zona bawah.

Meski sudah memprediksi tim terlambat start, namun Marco tetap kecewa dengan hasil buruk itu. Lebih dari itu, dia tak memperkirakan bila suporter tidak menerima hasil tersebut. Tidak hanya tagar Dejan out yang menggema, tetapi Marco dan menariknya, Arthur, didesak untuk out.

“Setelah kekalahan dari Persebaya, saya sudah berkomunikasi dengan perwakilan Sleman Fans dan beberapa teman yang dituakan di Sleman. Kami bersama-sama menyusun statemen yang nantinya dikeluarkan manajemen. Setelah berkali-kali direvisi, kami dan perwakilan suporter akhirnya sepakat yang kemudian diunggap. Saya sampaikan manajemen akan melakukan evaluasi ketat di seri kedua. Tidak ada kata-kata mengenai pemberhentian pelatih atau apa pun,” kata Marco.

Tak heran bila Marco terkejut karena tak lama kemudian suporter menolak pernyataan yang sudah dirilis itu. Padahal kedua belah pihak sudah sepakat dengan pernyataan tersebut. Puncaknya saat PSS bermain imbang saat melawan Persik. Suporter tak terima dengan hasil itu dan tetap pada tuntutannya, yaitu tiga sosok yang harus out.

Marco sendiri harus menerima kenyataan dirinya mendapat cercaan. Bahkan keluarganya mendapat teror. Saat diadakan pertemuan dengan suporter di Bandung, Marco yang sesungguhnya dalam kondisi tak sehat mendengar dengan telinga sendiri ada yang berkata, “Kami datang hanya untuk memaki-maki Anda.”

Pertemuan belum berakhir, Marco mengalami serangan jantung sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dalam situasi itu, Marco masih diteriaki, “Mati aja lu!”

“Saya bingung mengapa bisa terjadi? Bagaimana ketika keluarga Anda jatuh terus diteriaki seperti itu oleh keluarga sendiri. Saya tidak mengerti dan saya berharap suatu hari bisa memperbaiki itu,” tutur dia.

“Meski begitu, di media saya masih juga dibilang berakting dan lain-lain. Itu saya bingung, saya tidak mengerti bagaimana perasaan istri saya melihat suaminya dikatakan seperti itu. Sementara, ada perwakilan suporter yang tahu bagaimana keadaan saya saat menjalani perawatan,” ujarnya lagi.

Marco juga menanggapi pertemuan perwakilan Sleman Fans dengan stake holder atau pemegang saham di Jakarta. Pertemuan itu diadakan karena suporter menilai pertemuan dengan Direktur Utama PT PSS tak membuahkan hasil.

“Maaf, saya ingin meluruskan. Pertemuan itu sudah dirancang jauh-jauh hari. Saya sudah tahu rencana itu sebelum pertandingan melawan Persik. Saya sudah tahu semuanya, sampai soal logistik yang disiapkan. Pertemuan itu bukan karena kecewa dengan hasil pertemuan dengan saya tetapi memang sudah disiapkan jauh-jauh hari,” ucap Marco.

Meski demikian, Marco tetap optimistis dengan tim saat menghadapi putaran berikutnya. (kur/dwi)

Jogja Sport