RADAR JOGJA – Kontingen Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) akhirnya angkat bicara soal salah satu ofisialnya positif Covid-19 di PON Papua kabur dari tempat isolasi. Secara tegas mereka membantah tuduhan tersebut. Itu menyusul pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring, Senin (11/10).

Ketua Kontingen PON DIJ Rumpis Agus Sudarko mengatakan, pihaknya tidak pernah meloloskan dan mengizinkan atlet atau ofisial yang terpapar Covid-19 untuk lari dari Papua. “Buktinya ada dua atlet kami dari cabor balap motor di Merauke tetap menjalani isolasi setelah dinyatakan positif Covid-19 setelah tes PCR,” ujar Rumpis kemarin.

Yang pasti, Rumpis menjelaskan pernyataan Menkes tersebut tidak pernah terjadi. Sebab, kasus yang dipaparkan Menkes adalah kasus kepulangan tim sepatu roda DIJ dengan jadwal penerbangan 5 Oktober dan menjalani tes PCR sebagai syarat penerbangan pada 4 Oktober.

Hanya, sampai jam keberangkatan menuju Jakarta pada Senin pagi (5/10), hasil tes PCR tim tersebut belum keluar. Sebagai gantinya semua anggota tim menjalani tes antigen. “Baru sesampainya di Jakarta, melalui aplikasi peduli lindungi, hasil tes tersebut diketahui dan satu ofisial tim sepatu roda, yakni Sugeng Lasono dinyatakan positif,” kata Rumpis.

Setelah dinyatakan positif, Sugeng melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta menggunakan kereta api. Kemudian setibanya disana langsung melapor ke Puskesmas untuk mendapatkan arahan tindakan selanjutnya. Nah, dari Puskesmas disarankan agar ofisial tim sepatu roda melakukan isolasi mandiri. “Tanggal 9 Oktober tes PCR hasilnya negatif dan beliau sudah kembali bersama keluarga. Jadi tidak benar ofisial kami kabur dari tempat isolasi. Lha dipanggil saja belum pernah, dijemput juga belum, masak dinyatakan kabur,” tegasnya.

Anggota tim CDM DIJ, Wesley Tauntu menambahkan, kasus tersebut sebetulnya sudah disampaikan dalam rapat koordinasi CDM Meeting harian di PON Papua. Bahkan, kata Wesley tim hampir tidak bisa berangkat karena hasil PCR sampai pagi belum keluar. “Kasus hasil tes PCR ini juga terulang pas tim renang perairan terbuka dan panahan akan pulang. Akhirnya tim tetap berangkat dengan tes antigen atau surat keterangan. Artinya, koordinasi untuk masalah tes PCR ini yang belum baik,” tandasnya. (ard/din)

Jogja Sport