RADAR JOGJA – PSIM Jogja masih harus menunggu lebih lama untuk meraih poin penuh perdana di Liga 2 musim ini. Menghadapi Hizbul Wathan FC dalam laga kedua Grup C, anak-anak Jogja hanya bermain imbang 1-1.

Hasil imbang yang diraih di Manahan, Solo, ini membuat PSIM kini baru mengumpulkan satu poin. Mereka ada di posisi empat klasemen sementara Grup C.
PSIM yang kalah dari PSCS Cilacap di laga pertama, tampaknya tak mau mengulangi lagi hasil buruk itu. Tim asuhan Seto Nurdiyantara langsung mengambil alih kontrol pertandingan sejak wasit meniup peluit tanda babak pertama dimulai.
Yoga Pratama dan Ahmad Ihwan sempat mendapatkan peluang. Namun, Laskar Mataram -julukan PSIM Jogja- baru bisa mencetak gol ketika babak pertama tersisa lima menit. Tepatnya pada menit ke-40.
Bek kiri senior, Aditya Putra Dewa sukses menjadi eksekutor penalti PSIM. Tembakan kaki kirinya mengarah ke tengah gawang Hizbul Wathan yang tidak bisa dibaca Ferdiansyah.
PSIM mendapatkan hadiah tendangan penalti dari wasit Rihendra Purba setelah beberapa menit sebelumnya Yoga Pratama dijatuhkan oleh Edy Gunawan. Pemain berusia 36 tahun itu sempat melontarkan protes. Namun, wasit tetap pada keputusannya dan justru memberinya kartu kuning.
Pada babak kedua, Pelatih Seto Nurdiyantara memasukkan beberapa pemain anyar. Seperti Hapidin, Imam Witoyo, dan Nanda Nurrandi. Ketiganya menggantikan tiga penyerang PSIM yang bermain di babak pertama.
Imam dan Nanda sempat membuat repot lini belakang HWFC. Namun, Ferdiansyah masih terlalu tangguh. Pada menit ke-87, lini belakang Laskar Mataram justru kecolongan. Mereka tampak lengah dan kehilangan konsentrasi. Akibatnya, pemain pengganti Bayu Arfian berhasil membobol gawang Junaidi dengan tembakan keras dari dalam kotak penalti.
Jelang akhir laga, PSIM bahkan harus bermain dengan 10 pemain. Yudha Alkanza didakwa melakukan pelanggaran keras kepada salah seorang pemain belakang HWFC. Eks PSS Sleman itu mendapatkan kartu merah langsung dari wasit.
Dalam jumpa pers usai laga, Seto menyatakan memang ada yang perlu dievaluasi dari permainan tim asuhannya. Terutama di lini depan. Menurutnya, sebelum menghadapi HW, tim pelatih sudah memberikan latihan penyelesaian akhir dan penciptaan peluang untuk lini depan. “Evaluasi pasti, sebelum laga ini kami sudah berikan latihan untuk lini depan. Tapi, keberuntungan belum tampak,” katanya.

Seto juga merasa Purwaka Yudhi Cs masih terbebani di laga ini. Terutama pada babak pertama di mana ada beberapa peluang yang harusnya berbuah gol justru mentah. “Babak pertama ada beberapa peluang yang 99 persen harus jadi gol, tapi tidak jadi gol. Sementara di babak kedua juga masih ada perasaan seperti itu,” tandas eks pelatih PSS Sleman itu.
Di sisi lawan, satu poin ini tampak begitu berarti. Pelatih Hizbul Wathan FC Herrie Setiawan memuji permainan tim asuhannya yang ia sebut tak kenal lelah dalam berjuang. Terutama pada babak kedua. “Anak-anak berjuang maksimal. Benar-benar berjuang, kami acungi empat jempol untuk pemain saya,” ujarnya. (kur/laz)

Jogja Sport