RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 yang berlarut-larut mulai berdampak pada finansial klub. Beberapa klub bahkan pontang-panting karena pemasukan seret. Hal itu pun berpengaruh pada pembayaran gaji kepada pemain.

Seperti dialami KAI Bima Perkasa Jogja (BPJ) yang dikabarkan mulai kesulitan menggaji para pemainnya. Selain itu, manajemen BPJ juga memutus kontrak pemain lebih cepat dengan kompensasi. Kabar itu dikonfirmasi langsung oleh mantan pemain BPJ Raylly Pratama Putra.

Raylly mengatakan, dirinya terpaksa angkat koper dari tim kebanggaan Kanca Bima itu lantaran tidak diinginkan lagi oleh BPJ. “Manajemen bilang tidak ada rencana buat saya,” katanya, Jumat (9/7). Padahal, lanjut Raylly kontraknya baru akan habis pada Desember nanti. “Jadi saya enggak join Bima Perkasa lagi tapi dikasih kompensasi 50 persen per bulan,” tambah pebasket 31 tahun itu.

Meski hanya kompensasi, mantan pemain NSH Jakarta itu tak mempermasalahkan. Menurut dia, itu adalah bentuk kontribusinya bagi tim yang sedang dihimpit problem finansial. “Ya, itu saya anggap untuk membantu Bima Perkasa,” tandasnya.

Sementara itu, kontrak kapten BPJ Azzaryan Pradhitya akan berakhir pada September 2021. Hanya, pemain 28 tahun itu belum bisa memutuskan. Apakah akan teken kontrak atau mengakhiri kontrak bersama satu-satunya wakil DIJ di Indonesian Basketball League (IBL) itu. “Iya kontrak saya sisa dua bulan lagi,” ujar pebasket yang akrab disapa Adhit itu.

Di sisi lain, manajemen BPJ belum bisa dikonfirmasi terkait terdampaknya tim karena pandemi. Namun, dugaan itu muncul setelah pelatih kepala David Singleton secara mendadak mengundurkan diri dan pindah ke Prawira Bandung. Yang kemudian disusul Nuke Tri Saputra yang tidak memperpanjang kontrak. (ard/pra)

Jogja Sport