RADAR JOGJA – Presenter kondang Raffi Ahmad jadi salah satu artis tanah air yang memutuskan terjun dalam bisnis sepak bola. Bersama pengusaha Rudy Salim, dia berkolaborasi mengakuisisi Cilegon United FC (CUFC). Lantas, mengubah nama klub menjadi Rans Cilegon FC.

Tak hanya sekadar mengakuisisi, Raffi juga menunjukkan keseriusannya memajukan sepak bola Indonesia. Itu tak lepas dari ide dan keinginannya menggabungkan sepak bola dan entertainment. Tak hanya itu, suami Nagita Slavina itu mendorong PSSI benar-benar serius mengembangkan sepak bola usia muda, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No 3 Tahun 2019.

Hal tersebut juga diungkapkan Raffi dalam sosialisasi Inpres nomor 3 Tahun 2019 di Royal Ambarrukmo Hotel,┬áSabtu (12/6). Artis 34 tahun itu menyatakan pentingnya industri digital dalam pengelolaan sepak bola modern yang mulai dikembangkan. “Kita perlu kolaborasinya itu. Bayangin saja yang konvensional kita gabungin dengan digital sekarang akan semakin kuat lagi,” katanya.

Apalagi, lanjut Raffi, masa pandemi Covid-19 seperti saat ini klub berdarah-darah karena tidak ada pemasukan dari tiket penonton. “Kemarin kami coba bikin digital ternyata mau, orang berbayar tapi kan habit-nya yang harus kami terus pupuk. Tim besar seperti Persib dan Bali United, juga sekarang uji coba pakai berbayar kalau terus kayak gini kan perlahan akan bagus,” paparnya.

Berkaca dari sepak bola luar negeri, Raffi berujar bahwa klub-klub di sana memang sudah menggabungkan sepak bola konvensionalnya. Menurut dia, sepak bola itu bisa merangkul dan kena ke seluruh lapisan. Baik yang tradisional, modern, konvensional dan digital.

Sebagai ‘anak baru’ yang berkecimpung di dunia lapangan hijau, Raffi punya harapan tinggi agar sepak bola nasional bangkit. Terlebih, setahun belakangan ini bisnis sepak bola layu dihantam pandemi. Nah, saat ini adalah momen yang pas untuk sama-sama membangkitkan geliat si kulit bundar.

“Kompetisi kan juga mau mulai jadi pas. Liga 2 ada Kaesang Pangarep, Atta Halilintar, dan Baim Wong di Liga 3. Andre Taulany juga sudah tanya-tanya soal Liga 3,” ujarnya. “Bayangin kalau misalnya Liga 2 sekarang sudah bergairah dan trust dari masyarakat untuk Liga 3 pelan-pelan juga ada. Mungkin kalau sudah ada investor lagi yang masuk di Liga 3,” tambah dia.

Sementara itu, Waketum PSSI Iwan Budianto menyambut positif gagasan yang disampaikan oleh Raffi. Menurut dia, saat ini memang sudah seharusnya anak-anak muda berinisiatif dan membuat program untuk membantu memajukan sepak bola Indonesia. Pihaknya juga menyatakan, tidak bisa memaksakan menjalankan organisasi sepak bola dengan pengalaman puluhan tahun ke belakang.

“Eranya sudah berbeda dengan digitalisasi yang harus kami ikuti. Harapannya bisa tercipta kolaborasi digital hingga level Askot/Askab, ke depan sepakbola kita bisa maju utamanya secara prestasi dan industri,” ucap Iwan. (ard/yog)

Jogja Sport