RADAR JOGJA – Krisna Adi Darmatama menjadi satu dari pesepak bola Indonesia yang terseret kasus pengaturan skor atau match fixing. Atas kasus itu, Krisna pun mendapat hukuman berat. Yakni, larangan bermain sepak bola seumur hidup.

ANA R. DEWI, Jogja, Radar Jogja

SETELAH menerima sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pada Desember 2018 lalu, kehidupan Krisna Adi berubah total. Tidak bisa bermain sepak bola lagi karena terhalang sanksi. Untuk bertahan hidup, ia harus mencari sumber penghasilan lain.

“Saya sempat kerja di ekspedisi, nyopir tapi cuma sebulan. Apa saja saya lakukan, bikin kaos juga lalu saya jual,” ungkap Krisna kepada Radar Jogja, Senin (31/5).

Ya, selama dua tahun belakangan pasca dikenai sanksi, praktis Krisna tak punya penghasilan tetap lantaran hanya kerja serabutan. Berat dan tidak mudah. Terlebih, dirinya mengaku tidak memiliki keahlian lain selain bermain sepak bola.

Bagi Krisna, sepak bola adalah segalanya. “Ya, sekarang bingung karena passion memang di bola. Dulu zaman lulus sekolah disuruh kuliah, tapi saya nggak mau karena pengin jadi pemain bola,” ujarnya.

Soal kasusnya, sebetulnya Krisna pernah menemui PSSI untuk mengajukan banding. Kala itu ia datang ke kantor PSSI di Jakarta bersama sang kakak, Johan Arga. Hanya, upaya tersebut berakhir sia-sia. Sebab, aturan banding berlaku maksimal tiga hari setelah sanksi keluar. “Tapi waktu itu kan saya terkendala kecelakaan parah, jadi tidak bisa mengajukan banding pas Desember 2018,” keluhnya.

Meski demikian, hal tersebut tak membuat harapan Krisna bermain sepak bola luntur. Ke depan, dia berencana kembali mengajukan banding dan permohonan maaf agar sanksi itu bisa diputihkan atau dihilangkan. Tentunya dengan harapan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) maupun pihak terkait bisa membantunya keluar dari jeratan sanksi.

Saat ini, Krisna masih aktif berlatih sepak bola bersama klub lokal di DIJ. Juga tak jarang latihan bersama eks pemain PSIM seperti Edo Pratama, Pratama Gilang, hingga TA Musafri. Selain untuk mengobati rasa kangen dengan si kulit bundar, sekaligus untuk menjaga touch bola jika suatu saat nanti dirinya bisa merumput kembali.

“Maret lalu uji coba sama Barito Putera kalah 3-2 dan saya cetak gol. Kayak rasanya saya ya masih mampu main bola, jadi terharu. Kemarin juga main uji coba lawan Borneo FC di Lapangan YIS,” bebernya.

Namun, ia sempat bertanya kepada diri sendiri, ke mana muaranya. “Saya cuma latihan, main baik tapi nggak bisa karena masih ada sanksi. Nah, itu yang bikin saya down,” tambah Krisna.

Selama berkarir sebagai pesepak bola, bapak satu anak ini pernah membela beberapa klub. Salah satunya PSIM Jogja. Karir profesional Krisna dimulai dari PSIM. Dia sempat berkostum klub berjuluk Laskar Mataram itu selama dua musim, medio 2015-2017. Bahkan, pria kelahiran 21 April 1995 ini tercatat menjadi top skor PSIM pada 2017 silam. Saat itu, Krisna berhasil membukukan sebanyak tujuh gol.

Berbicara soal PSIM, semakin membuat Krisna rindu akan dunia sepak bola. Dia pun sedikit flash back selama berkarir untuk klub berlogo Tugu Pal Putih itu. Menurutnya, membela PSIM adalah masa-masa indah di sepanjang karirnya.

“Saya ke PSIM tahun 2015 magang, 2016 saya jalanin berjuang agar bisa masuk line up. 2017 saya target starting, akhirnya awal 2017 PSIM lawan Martapura FC saya main di menit ke-78 dan cetak gol. Pertandingan kedua lawan Persinga Ngawi jadi pemain pengganti lagi, di babak kedua saya golin lagi,” kenang anak kedua dari dua bersaudara itu.

Seperti diketahui, pada akhir 2018 lalu Krisna terkena sanksi karena dianggap turut menjalankan praktek match fixing, dengan sengaja membuat timnya PS Mojokerto Putra kalah kontra Aceh United pada babak delapan besar Liga 2 2018. (laz)

Jogja Sport