RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 yang mewabah hampir setahun ini tak jadi hambatan bagi penggiat sepak bola dalam memaksimalkan talenta pesepak bola muda. Salah satunya seperti yang dilakukan sejumlah pengurus akademi di berbagai daerah di Indonesia.

Beberapa nama penggiat sepak bola usia dini memberikan unek-unek dalam webinar bertajuk Akademi di Tengah Pandemi yang digelar Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY), Sabtu (20/2). Ada empat narasumber yang hadir, di antaranya Rudy Eka Priyambada (CEO Safin Pati Football Academy), Guntur Cahyo Utomo (Direktur PSS Development), Mat Halil (pengelola SSB El Faza Surabaya), dan Eladio Antonio Reyes (La Liga Akademi Jakarta).

Meski kompetisi sepak bola nasional belum bergulir, tak lantas membuat kegiatan anak-anak didik di akademi menjadi terhenti. Rudy Eka mengatakan, proses pembinaan dan pembelajaran tetap berjalan seperti biasa ditengah pandemi Covid-19. Berbagai hal tetap bisa dilakukan SPFA, tentunya dengan memerhatikan protokol kesehatan ketat. “Karena di tempat kami ada sekolah berbasis kurikulum Singapura. Jadi anak-anak masih bisa belajar sekolah formal, selain latihan setiap pagi dan sore,” ujar Rudy Eka.

Eks pelatih Persebaya itu menuturkan, di situasi seperti ini minimal kegiatan harus tetap berjalan. Sebab, kata Eka hal tersebut jauh lebih bermanfaat ketimbang anak hanya bermain game online.

Sementara itu, narasumber lainnya Mat Halil juga berbagi cerita menarik seputar SSB yang dia rintis, yakni SSB El Faza. Menurut Mat Halil keterbatasan tak menjadi halangan besar untuk tetap berkonsentrasi di sepak bola usia dini. “Awalnya saya bangun SSB untuk mewadahi anak-anak yang kurang mampu ekonominya namun sebenarnya punya potensi dan bakat. Di Surabaya ada lapangan tapi ya banyak kurang bagus,” paparnya. “Beda dengan akademi yang pasti lebih baik. Untuk itu saya pakai nama SSB saja karena pasti banyak yang ingin masuk di Persebaya dan tim internal,” tambah eks pemain Persebaya itu.

Guntur Cahyo menjelaskan, akademi bisa menjadi ladang investasi dan sangat penting bagi pengembangan usia muda. Apalagi banyak contoh di luar negeri, bahwa ini sebagai investasi dan bank pemain. “Alhamdulillah ada tujuh pemain akademi PSS yang berkesempatan di level lebih tinggi di Timnas U-16 dan dua pemain di Garuda Select. Menjadi sebuah reward¬†untuk kami,” tegas Guntur.

Perwakilan Akademi La Liga Eladio Antonio Reyes menuturkan pembinaan yang dia dilakukan tetap berhubungan dengan kurikulum dari negara Matador. Tentunya menyesuaikan kultur masyarakat di Indonesia. “Semua program yang kami jalankan, dipantau oleh La Liga. Karena sistem dan fasilitas budaya yang berbeda, setidaknya apa yang kami bisa lakukan untuk mengembangkan bakat anak-anak di Indonesia,” ucapnya.

Yang pasti, kurikulum sepak bola harus dibuat standar berdasarkan kelompok usia. Tujuannya agar anak didik dapat mengerti apa yang diinginkan pelatih di lapangan. Sebagai contoh pemain delapan tahun dapat dicampur dengan peserta 10 tahun dalam latihan. Kemudian untuk masuk fase taktik baru dapat dimulai usia 14 tahun.

“Sepak bola Spanyol bisa saya katakan mirip di Indonesia, permainan dari kaki ke kaki. Budaya sepak bola Spanyol bisa disesuaikan di sini, PSSI juga punya proyek dengan sepak bola Spanyol,” terang Eladio. (ard/yog)

Jogja Sport