RADAR JOGJA – Penghentian kompetisi musim 2020 membuat klub bernapas lega. Sebab, akhirnya mereka mendapatkan kepastian setelah menanti keputusan cukup lama. Hanya saja, rencana kompetisi 2021 masih abu-abu lantaran PSSI urung mengantongi izin dari kepolisian.

Karena kondisi itu, sebagian besar klub pun mengusulkan kompetisi tahun ini digelar setelah Hari Raya Idul Fitri atau sekitar Mei mendatang. Usulan itu dianggap paling tepat jika melihat situasi kondisi saat ini.

Selain itu, operator kompetisi juga bisa semakin matang menyiapkan pelaksanaan Liga. Utamanya dalam hal perizinan keamanan sekaligus berupaya melobi pemerintah agar peserta Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 mendapatkan jatah vaksin. Sebab, PSSI sendiri rencananya hanya diberikan jatah 178 vaksin oleh Kemenpora. “Sekarang kami harus usahakan sekuat tenaga vaksinasi ini untuk tim,” ucap Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita.

Di sisi lain, setelah penghentian kompetisi, klub bisa berbenah dan fokus menyiapkan tim untuk kompetisi baru. Salah satunya dengan mulai menjajaki renegosiasi kontrak pemain. Mengingat sebagian kontrak pemain sudah kadaluwarsa pada 31 Desember 2020 lalu. “Tentunya manajemen akan membahas hasil keputusan PSSI, yang nantinya bakal menentukan bagaimana langkah PSIM untuk musim 2021,” terang Media Officer (MO) PSIM Ditya Fajar Rizkizha.

Demikian pula perihal vaksinasi manajemen Laskar Mataram -julukan PSIM- sangat mengapresiasi langkah PSSI memperjuangkan vaksin untuk sepak bola. “Saya kira positif ya, karena dengan adanya vaksin bukan mustahil Polri memberikan izin penyelenggaraan Liga,” kata pria 30 tahun itu.

Yang pasti, lanjut Ditya, PSIM berharap Kemenpora mempertimbangkan sepak bola, khususnya klub Liga 1 dan 2, sebagai penerima vaksin. Harapannya pertengahan tahun ini kompetisi dapat terealisasi dan berjalan dengan aman. “Dengan begitu jika Liga akan di mulai, cabor sepak bola sudah siap,” tandasnya. (ard/laz)

Jogja Sport