RADAR JOGJA – Di tengah ketidakjelasan kompetisi Liga Indonesia tak lantas membuat manajemen PSS Sleman lepas tangan. Klub berjuluk Super Elang Jawa itu masih komit membayarkan gaji pemain sesuai kesepakatan. Hal itu diungkapkan Direktur Utama (Dirut) PSS Marco Gracia Paulo.

Direktur Utama (Dirut) PSS Marco Gracia Paulo.(ANA R. DEWI/RADAR JOGJA)

Marco menyebut gaji diberikan dengan nominal yang cukup baik. Meski sekalipun di situasi sulit seperti ini. Terlebih manajemen sudah memperpanjang kontrak pemain sampai Februari 2021. “Tapi sifatnya yang kami perpanjang (kontrak) adendumnya itu sesuai dengan regulasi FIFA, masa berlakunya kontrak paling minimum sependek-pendeknya sampai selesai masa kompetisi,” terang Marco, Senin (11/1).

Eks CEO Badak Lampung FC itu menjelaskan pembaruan kontrak dilakukan lantaran kompetisi yang awalnya akan diputar kembali pada Oktober 2020 harus batal. Padahal kontrak sebagian pemain kadaluwarsa pada 31 Desember tahun lalu. Sehingga kontrak diperpanjang hingga Februari 2021, atau sampai kompetisi itu dianggap selesai. ”Jadi kalau lewat Februari ya kami akan mengikuti sampai akhir. Tapi tetap yang kami tunggu adalah keputusan PSSI dan LIB karena kami tidak mau menyalahi aturan,” katanya.

Tak dipungkiri, ketidakpastian kian membuat klub dalam posisi sulit. Kondisi itu kemudian dijelaskan Marco kepada pemain dan pelatih. “Pemain sudah paham, tapi kalau ada pengumuman resmi Liga 1 2020 dianggap berhenti, maka sesuai dengan kontrak kami bisa menyelesaikan per hari itu. Tapi tentunya kami akan siapkan yang terbaik untuk para pemain,” tandas eks Deputi Sekjen PSSI itu.

Karena sampai saat ini belum ada kejelasan kapan Liga bergulir, PSS pun telah bersurat kepada PSSI dan LIB. Klub kebanggaan Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) itu memohon agar federasi secepatnya memberikan kepastian terkait status kompetisi musim 2020. Sebab, Super Elja sudah sangat lelah digantung PSSI maupun operator kompetisi.

Sementara, gelandang PSS Jefri Kurniawan dengan tegas meminta PSSI membatalkan kompetisi musim 2020 saja. Pemain kelahiran Malang, Jawa Timur itu ingin federasi fokus menyiapkan kompetisi musim 2021. “Lebih baik setop kompetisi 2020, fokus ke Liga 2021. Bukan cuma untuk kebaikan pemain, tapi juga untuk kebaikan klub, operator, dan demi kemajuan sepak bola Indonesia. Apalagi Piala Dunia U-20 di Indonesia juga ditunda,” ujar pemain 29 tahun itu. (ard/bah)

Jogja Sport