RADAR JOGJA – Sama-sama memiliki juru taktik baru, PSS Sleman dan PSIM Jogja belum bisa melihat hasilnya. Pandemi Covid-19 membuat kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 2020 dihentikan di tengah jalan. Pelaksanaan kompetisi pada 2021 dinantikan realisasinya.

Jelang pergantian tahun, doa dan harapan terbaik disematkan seluruh pelaku sepak bola di tahun 2021. Mereka berharap tahun depan situasi kondisi menjadi lebih baik. Pun demikian pandemi Covid-19 diharapkan segera teratasi.

Ya, karena pandemi bisa dikatakan tahun ini merupakan periode terburuk bagi persepakbolaan di dunia. Dampak pandemi membuat seluruh aspek sepak bola terhenti. Karena itu, lanjutan kompetisi menjadi harapan besar yang dinantikan kontestan klub. Apalagi, sudah sembilan bulan kompetisi Liga Indonesia terhenti tanpa ada kejelasan dari PSSI dan PT LIB.

Sempat hendak restart, izin dari kepolisian kembali menghentikan pelaksanaan Liga 1 maupun Liga 2 tahun ini. Tahun baru, semangat baru. Menjadi tagline yang pas untuk memulai tahun 2021. Semangat dan optimisme itulah yang bakal dipupuk PSS Sleman. “Yang jelas dari tim PSS berharap federasi dapat izin untuk kembali menggulirkan Liga. Itu yang paling utama kompetisi berjalan dulu,” kata Manajer PSS Danilo Fernando saat dihubungi Radar Jogja (30/12).

Yang pasti, Danilo ingin PSSI dan PT LIB bisa segera memastikan status kompetisi serta regulasi Liga. Meski, sekalipun di masa sulit seperti saat ini. “Mudah-mudahan dengan protokol kesetahan yang ketat, kompetisi bisa jalan terus tanpa kendala,” harapnya.

Nah, berbicara target, tim kebanggaan Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) itu punya target yang sama seperti awal musim 2020. Yakni, finish di posisi lima besar klasemen akhir. Hanya, untuk mencapai target yang dibidik dibutuhkan kerja keras dari seluruh elemen tim. “Semoga pemain bisa menjaga kondisi dan kesehatan selama libur panjang. Dengan kondisi sekarang dan status mungkin kompetisi akan dimulai dari awal lagi, harapan PSS bisa lebih fokus lagi,” papar eks pemain Persik Kediri itu.

Dikatakan, target yang diusung dinilai cukup realistis. Mengingat semua kontestan juga mengalami kondisi yang sama akibat Covid-19. Apalagi, dalam kiprahnya di Liga 1 musim 2019, Super Elja menjelma menjadi tim kuda hitam. Berstatus sebagai tim promosi, PSS mampu bersaing dengan finish di urutan delapan klasemen akhir.

Tak hanya fokus pada tim senior, manajemen Laskar Sembada juga bertekad memajukan tim kelompok umur. Seperti yang berkompetisi di Elite Pro Academy (EPA) maupun tim sepak bola putri.

Sama seperti PSS, wakil kontestan Liga 2 asal DIJ PSIM Jogja juga mengusung semangat tinggi di tahun 2021. Klub berjuluk Laskar Mataram itu optimistis naik kasta. “Tahun depan kami yakin tetap masuk ke Liga 1. That’s why kita tetap hired coach Seto (Nurdiyantara), salah satu pelatih terbaik di Indonesia dengan lisensi AFC,” ujar Deputy Commercial Director PSIM Liana Tasno.

Namun, untuk merealisasikan target tersebut tentunya kompetisi harus berjalan terlebih dulu. Sebab, hingga kini federasi belum memastikan kapan kick off Liga. “Kami berharap PSSI dan LIB sebagai operator memberikan kejelasan mengenai Liga. PSIM sangat ingin berkompetisi dan bisa tembus ke Liga 1,” ucap Liana.

Yang jelas, seandainya target tersebut terealisasi tim kebanggaan Brajamusti dan The Maident itu akan berbenah ke arah yang lebih profesional di era sepak bola modern ini. “Setelah bisa masuk ke Liga 1 maka kami akan melakukan perluasan seperti klub profesional pada umumnya. Sebab kami memang ingin mengelola PSIM ini dengan cara yang profesional dan bermartabat,” tandas mantan Manajer Brand dan Komunikasi Timnas Indonesia itu.

Harapan yang sama juga datang dari penyerang senior PSIM TA Musafri. Perihal kompetisi, pemain kelahiran Ternate, Maluku Utara itu ingin secepatnya ada titik terang. “Harapannya simpel sepak bola segera di putar kembali karena di seluruh negara hampir semua kompetisi berjalan dengan prokes yang ketat. Kalau untuk tim tentu saja saya ingin bantu tim naik kasta ke Liga 1,” tekadnya. (ard/pra)

Jogja Sport