RADAR JOGJA – Tahun 2020 segera berakhir. Banyak momen kelam terjadi di dunia sepak bola sepanjang tahun ini. Pasalnya, seluruh aspek sepak bola harus terhenti karena pandemi Covid-19.

Akibat pandemi yang kian meluas, kompetisi Liga Indonesia pun ditangguhkan. Federasi sepak bola Indonesia alias PSSI memutuskan menghentikan kompetisi pada 15 Maret lalu. Padahal, kala itu Liga 1 2020 baru berjalan tiga pekan. Bahkan Liga 2 baru berjalan satu laga.

Praktis aktivitas sepak bola seakan mati suri. Kondisi tersebut memaksa klub meliburkan skuad-nya. Karena penangguhan itu, tak sedikit klub yang terhimpit masalah finansial. Klub merugi lantaran tak ada pemasukan tiket pertandingan. Juga ditinggal lari sponsor.

Nah, berselang beberapa bulan PSSI segera menentukan nasib kompetisi dengan mengadakan pertemuan dengan kontestan klub. Setelah disepakati, akhirnya kompetisi direncanakan diputar pada Oktober 2020. Tapi jelang kick off, kompetisi justru kembali ditangguhkan. Alasannya cukup konyol, karena pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan.

Lantas, federasi dan operator melobi pihak kepolisian agar akhir tahun bisa menggelar kompetisi. Namun sayang, hal itu urung terlaksana karena berbarengan dengan agenda pilkada serentak. Hingga diputuskan tidak ada kompetisi di sisa tahun ini. Tarik ulur serta ketidaksiapan PSSI memutar kompetisi membuat kondisi keuangan klub semakin terpuruk.

Manajer PSIM Jogja David MP Hutauruk menyebut, tahun ini seperti turbulensi sepak bola. Tak dipungkiri keadaan saat ini membuat timnya babak belur. Belum lagi biaya yang sudah dikeluarkan untuk latihan tim. Tapi lagi dan lagi klub menjadi korban “PHP” alias pemberi harapan palsu PSSI dan LIB.

Meski begitu, David mencoba mengambil sisi positif dari adanya musibah ini. “Segala SOP dan SDM insan sepak bola harus mengambil pelajaran dari kejadian pandemi. Pembelajaran yang sangat berharga adalah dibutuhkan rencana adaptasi terhadap situasi seperti saat ini,” katanya kepada Radar Jogja Jumat (25/12).

Diakui, sangat sulit kondisinya karena pandemi menerpa hampir seluruh negara dan membuat segala lini bidang industri serta bisnis. “Termasuk di dalamnya sepak bola menjadi harus menunda, bahkan cenderung terhenti di 2020 ini,” tambah David.

Di tahun 2021 nanti, David berharap pandemi segera mereda agar keadaan kembali normal. Pun roda perekonomian juga diharapkan pulih, sehingga lanjutan kompetisi bisa terealisasi. “Mudah-mudahan kompetisi bisa berjalan sebagaimana mestinya dengan segala penyesuaian keadaan yang ada,” tandasnya.

Harapan yang sama juga datang dari penjaga gawang PSIM Ivan Febrianto. Perihal kompetisi, kiper asal Semarang itu ingin secepatnya ada titik terang. “Entah itu pakai penonton atau tidak, kami rindu berkompetisi. Selama ini sebagai pesepak bola sudah lama menunggu kompetisi resmi,” ucapnya. (ard/laz)

Jogja Sport