RADAR JOGJA – Sudah hampir sembilan bulan kompetisi Liga Indonesia ditangguhkan. Tak ada aktivitas yang dilakukan pelaku sepak bola. Sebelumnya kompetisi sempat diwacanakan diputar pada Oktober lalu, namun kembali ditunda karena tebentur izin keramaian.

Tidak adanya kejelasan Liga, tentu semakin membuat klub merana. Sebab, klub harus menanggung kerugian untuk menutup biaya operasional tim. Termasuk tetap membayarkan gaji pemain dan ofisial.

Sama seperti tim lain, hal itu juga dialami PSS Sleman. Direktur Keuangan PSS Andy Wardhana Putra tak memungkiri dengan vakumnya kompetisi membuat pemasukan klub kian seret. Utamanya pendapatan tiket penonton.

Meski dalam kondisi krisis akibat Covid-19, Andy berujar klub berjuluk Super Elang Jawa itu terus berinovasi. “Berkaca pada pengalaman sebelumnya, dengan vakumnya kompetisi. Tapi di sisi lain dengan atau tidak adanya kompetisi denyut nadi PSS tetap hidup. Tapi kami juga wajib berbenah membuat tim ini menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Andy mengatakan, PSS merupakan salah satu klub di Indonesia yang punya basis masa suporter besar. Sehingga meski kompetisi tak jelas, tim kebanggaan Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) itu dinilai memiliki potensi yang cukup besar. “Potensi lingkungan di PSS ini bisa dikembangkan. Contohnya dari sisi suporter serta UMKM yang bekerja sama, misal bersinergi dengan baik optimisme bakal semakin berkembang,” katanya.

Di sisi lain, dalam waktu dekat PSS bakal menempati rumah baru. Tak hanya sebagai kantor, nantinya rumah baru itu akan menjadi wadah bertemunya sponsor, suporter, dan jajaran direksi PT PSS. Selain itu, rumah baru Super Elja juga difasilitasi kafe, store, hingga mini soccer.

“Saya yakin membuat tim ini lebih maju dan profesional. Ke depannya lebih eksis, tidak hanya di tingkat lokal tapi jadi yang terdepan,” tandasnya. (ard/laz)

Jogja Sport