RADAR JOGJA – Rahmayuna Fadillah mengenal olahraga panjat tebing pada tahun 2013. Tepatnya saat dirinya bergabung dengan klub Pantarhei, Mapala Fakultas Filsafat UGM. Skill atlet yang akrab disapa Yuna itu terus ditempa disana. Kini, dia pun menjadi bagian tim panjat tebing DIJ.

Awalnya iseng, akhirnya keterusan. Mungkin itu adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan perjalanan karir Yuna di dunia panjat tebing. “Pertama hanya ikut-ikutan latihan bareng teman-teman Mapala terus nyoba ikut lomba open panjat tebing,” ujarnya saat ditemui di kompleks Mandala Krida, Kamis (3/12). Kebetulan, di klub Pantarhei ada pendidikan khusus untuk para pemula.

JADI PROFESI: Atlet panjat tebing Rahmayuna Fadillah tengah mengikuti Puslatda untuk mempersiapkan
PON XX Papua.(ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Tak disangka, keisengan itu mengantarkannya menyabet medali perunggu dalam seleksi atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI)┬áSleman. Hingga akhirnya, perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat 3 Mei 1995 itu mendapat tawaran menjadi atlet Sleman. “Setelah itu Alhamdulillah tahun 2017 saya dipanggil tim Puslatda DIJ untuk persiapan Kejurnas,” kenangnya. Tak hanya itu, tahun lalu mahasiswi semester akhir UGM ini juga mendapat panggilan tim Pelatnas Indonesia Pra-Olimpiade Tokyo untuk menjadi sparring partner.

Suka duka dirasakan dara 25 tahun itu. Maklum di luar kesibukan sebagai atlet, Yuna juga harus pintar-pintar membagi waktu latihan dengan pendidikan. Tak jarang hal itu pun membuat dirinya dilema. “Mungkin sama seperti atlet lain ya bagi waktu yang sulit, kadang sudah kecapekan malah bolos kuliah. Saya juga sempat cuti tiga semester biar fokus di panjat,” bebernya.

Yuna sadar betul, menjadi seorang atlet ada banyak hal yang harus dikorbankan. Selain waktu dan kerja keras, atlet juga dituntut profesional. “Disaat harus latihan teman ngajak main. Jadi dilema kan milih nongkrong apa latihan, akhirnya tetap latihan jadi jarang main kecuali pas libur,” kata perempuan yang punya hobi adventure itu.

Belum lagi, aktivitas latihan tak jarang membuatnya jenuh. Namun, pengorbanan dan kerja keras yang selama ini dilakukan terbayar lunas ketika berhasil menjuarai kejuaraan. “Sukanya ya kalau lomba juara dapat bonus, kenal teman baru, dan bisa ke tempat baru,” paparnya.

Lantas, siapa yang menginspirasi Yuna dalam olahraga panjat? Dengan lantang dia menjawab Agung Etty Hendrawati. “Idola saya Mbak Etty Hendrawati pemanjat lama. Salut sama prestasi beliau jadi Juara Dunia dan sampai sekarang masih tetap besar namanya,” ucap Mahasiswi jurusan Filsafat itu.

Nah, kini sudah lebih dari enam tahun Yuna berkecimpung di dunia panjat tebing. Berbagai kejuaraan pernah diikuti, di antaranya Porda DIJ, Kejurnas, Rock Expert Southeast Asia Sport Climbing Festival, Pra-PON, juga kejuaraan open lainnya. Meski begitu, masih ada beberapa kejuaraan yang sangat ingin dia ikuti. Yakni, PON, Asian Games, dan World Cup. “Kalau target terdekat dapat emas di PON sama pingin juara nasional dan internasional,” harap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Saat ini Yuna tergabung dalam tim Puslatda PON DIJ. Nomor andalannya speed world record (WR). Dia bersama tujuh pemanjat lainnya bersaing untuk lolos mewakili DIJ di ajang PON XX Papua tahun depan. Maklum, panjat tebing masih memberlakukan sistem promosi degradasi atlet. Karena itu, dia bertekad tampil sebaik mungkin agar menjadi kebanggaan DIJ. (ard/bah)

Jogja Sport