RADAR JOGJA – Meski sudah kembali memulai Puslatda secara normal, Sugeng mengaku latihan yang dilakukan di kompleks Stadion Mandala Krida belum bisa maksimal. Sebab, tim sepatu roda terkendala trek atau lintasan latihan. “Tempat latihan belum jelas, masih pindah-pindah karena kami biasanya latihan di SSA,” ujarnya.

Hanya karena kasus Covid-19 di Bantul melonjak, home-base Persiba Bantul itu pun kembali ditutup. Sehingga tim sepatu roda terpaksa “ngungsi” di Mandala Krida. “Yang cukup ideal ya SSA. Jadi kami harus menunggu SSA dibuka,” katanya. Yang jelas dia berharap SSA segera dibuka untuk umum agar timnya dapat kembali berlatih seperti biasa.

Dikatakan, latihan saat ini cukup berisiko dan terlalu berbahaya untuk para atlet. Sebab, selain tekstur aspal di Mandala Krida terlalu kasar, roda sepatu para atlet juga sudah mulai habis atau aus. “Kalau di sini ya istilahnya untuk teknik saja. Mengingat di sini licin kalau roda habis, ya risiko cedera dan risiko jatuh lebih fatal. Lebih baik kami di SSA daripada di Mandala,” keluhnya.

Meski dengan keterbatasan, Sugeng berharap persiapan ke depan bisa lebih matang dan lancar. “Jangan sampai dari segi endurance atau performa atlet menurun atau drop. Sehingga untuk mengantisipasi itu nanti kami ada beberapa yang maraton di luar Mandala, seperti latihan fisik di Pantai Samas,”  tambah Sugeng.

Sementara itu, salah satu atlet sepatu roda Naviska Putri Alifah berujar persiapan yang dilakukan masih dalam tahap awal. “Kami melanjutkan program dari yang kemarin mandiri sekarang secara bersama lagi. Alhamdullilah lancar meski ya ada beberapa kendala karena pandemi,” ucap atlet 17 tahun itu.

Kendati saat ini latihan tak terlalu maksimal. Namun dia dan rekan timnya berjanji untuk tidak mengendorkan semangat latihan. Hasil terbaik diharapkan di Papua nanti. “Target sih podium tapi kalau bisa ya emas. Semua pasti target emas nomor apapun pasti targetnya peringkat satu. Apalagi ini PON pertama untuk saya, kalau bisa ya dapat medali,”  tekadnya. (ard/laz)

Jogja Sport