RADAR JOGJA – Tak banyak atlet yang sangat peduli dengan dunia akademis. Satu dari yang sedikit itu adalah pesilat DIJ Firdhana Wahyu Putra. Setelah menyelesaikan studi pascasarjana di akhir tahun 2019 lalu, Firdhana akan melanjutkan ke doktoral atau S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Keinginan Firdhana untuk terus belajar bukan tanpa alasan. Ia sadar betul, profesi sebagai atlet bukanlah profesi yang lama. Apalagi di pencak silat yang proses regenerasinya begitu cepat.

Untuk itu, Firdhana terus memperdalam ilmu pengetahuannya di bidang olahraga. Khususnya pencak silat. Apalagi pada 2019 lalu, Firdhana juga sudah resmi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Kendati demikian, Firdhana masih belum terpikir rencana untuk pensiun. Rencananya, sambil masih menjadi atlet dia akan meneruskan kuliah S3 di Program Studi Ilmu Keolahragaan-S3, Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Ya, di dunia pencak silat nasional, Firdhana cukup disegani. Pria kelahiran Bantul 26 tahun silam itu berulang kali mewakili Indonesia untuk berlaga di kejuaraan bergengsi level internasional. Salah satunya adalah kejuaraan dunia pencak silat.

Bahkan, Firdhana dua kali merasakan tampil di ajang tersebut. Yakni pada 2016 dan 2018 yang lalu. Kejuaraan dunia sejauh ini menjadi level kompetisi tertinggi bagi pesilat. Hal itu dikarenakan pencak silat masih belum dipertandingkan di ajang Olimpiade. “Saya berharap semoga bisa merasakan kejuaraan dunia, paling tidak sekali lagi,” harapnya.

Di level nasional, prestasi Firdhana juga bisa dibanggakan. Kendati demikian, dia masih memiliki satu misi yang ingin segera ia wujudkan. Yakni mempersembahkan medali emas untuk DIJ di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Pada ajang PON 2016 lalu yang berlangsung di Jawa Barat, Firdhana sebenarnya memiliki peluang besar untuk meraih emas. Namun, langkahnya harus kandas di babak semifinal setelah dikalahkan pesilat tuan rumah.

Untuk itu, dia dan para pesilat DIJ yang lain saat ini tengah menjalani program latihan. Taget Firdhana jelas, meraih medali emas di PON Papua yang rencananya bakal digelar tahun depan. “Saya mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk bisa menyabet medali emas,’’ tegasnya sosok yang berlaga di kelas J Putra (90-95 kg) itu.

Segala macam prestasi yang diraih Firdhana bukan berasal dari sesuatu yang instan. Firdhana adalah contoh atlet yang konsisten ditempa sejak dini. Firdhana mengaku sudah menjalani latihan pencak silat sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). “Saya dulu diajak bapak untuk berlatih di Tapak Suci Cabang Kotagede bertempat di SMA Muhammadiyah 4 Jogja,” kenang Firdhana.

Ayah Firdhana sendiri bernama Fakhruddin. Saat ini ayahanda Firdhana Wakil Dewan Guru di Pimpinan Pusat (PP) Tapak Suci Putera Muhammadiyah dan juga Wasit Juri Nasional Pencak Silat.(kur/din)

Jogja Sport