RADAR JOGJA – Nama Roberto Kwateh tak asing bagi pecinta sepak bola di Jawa Tengah maupun Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Ya, pemain asal Liberia itu memang kerap memperkuat klub di dua wilayah ini.

Klub-klub besar seperti PSIS Semarang dan PSIM Jogja pernah diperkuat oleh Kwateh. Demikian juga dengan klub lain seperti PSCS Cilacap. Kwateh yang kini sudah menetap di Bantul memiliki pengalaman yang menarik saat mengikuti seleksi PSIM Jogja.

Kwateh kali pertama datang ke Indonesia tahun 2003. Kala itu usianya baru 19 tahun. Setelah gagal mengikuti seleksi di Pelita Jaya, ia kemudian mencoba peruntungan di PSIM Jogja. Kwateh pun menceritakan bagaimana proses seleksi yang ia alami kala itu.

Menurutnya, saat itu ia harus bersaing dengan banyak pemain lokal berkualitas. “Seleksinya bukan hanya skill tapi fisik juga,” katanya.

Di usia yang sangat muda dan harus meninggalkan tanah kelahirannya, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Kwateh. Namun, pemain yang dulu berposisi sebagai penyerang itu mengaku tak mengalami banyak masalah soal adaptasi selama di PSIM. “Pemain senior seperti Marjono dan yang lain suka bantu saya,” ujarnya.

Ada banyak hal menarik yang dialami Kwateh selama membela PSIM Jogja. Satu yang tak bisa ia lupakan adalah saat Laskar Mataram – julukan PSIM Jogja – bertandang ke kandang Persim Maros, Sulawesi Selatan.

Dalam laga itu banyak hal yang dialami Kwateh dan kolega. Mulai teror dari pendukung tuan rumah, tidak boleh mencoba lapangan saat latihan, dan banyak hal lain. “Kami kalah 1-4 saat itu, banyak keputusan aneh dari wasit juga,” tandasnya, sembari tertawa.

PSIM Jogja sedang membangun kembali kekuatan untuk bisa kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia. Kwateh pun berharap agar PSIM bisa kembali bermain di kasta tertinggi. Menurutnya, tim dengan sejarah dan suporter seperti PSIM memang sudah selayaknya berlaga di Liga 1. (kur/laz)

Jogja Sport