RADAR JOGJA – Didik Wisnu memiliki hubungan yang erat dengan PSIM Jogja. Meski lahir di Magelang, Didik juga menjadi bagian dari PSIM sejak di level junior. Sejak beberapa musim terakhir Didik diberi tanggung jawab untuk melatih para penjaga gawang PSIM.

HERY KURNIAWAN, Jogja, Radar Jogja

Di tengah libur kompetisi dan situasi pandemic virus korona yang masih mengkhawatirkan, Didik menyempatkan diri ngobrol santai dengan Radar Jogja Senin  (4/5). Dalam obrolan via sambungan telepon itu, Didik menceritakan bagaimana awal mula bisa bergabung dengan PSIM Jogja.

Didik mengisahkan, di awal 2000-an sempat ada turnamen klub internal di PSIM. Dari turnamen itulah ia kemudian dilirik oleh PSIM Jogja junior. Tak butuh waktu lama bagi Didik. Di tahun 2002, dia sudah menjadi bagian dari tim senior PSIM Jogja. “Kebetulan waktu itu ada seleksi dan saya masuk,” kisahnya.

Selama menjalani karir di PSIM, Didik memang tak selalu menjadi pilihan utama. Bahkan, bisa dikatakan sosok yang kini sudah berusia 40 tahun itu hampir salalu ada di bawah bayang-bayang legenda PSIM Jogja Ony Kurniawan.

Kendati demikian, rasa cinta Didik terhadap PSIM tak pernah pudar. Ia bahkan menegaskan sampai kapanpun darahnya akan tetap biru seperti warna kebanggan PSIM Jogja. “Ya meski saya sempat pindah-pindah klub, saya selalu siap jika PSIM membutuhkan saya,” tegasnya.

Kecintaan Didik pada PSIM Jogja bukannya tak berdasar. Didik mengaku berhutang banyak hal pada Laskar Mataram. Menurut dia, klub kebanggaan Brajamusti dan The Maident itu sudah memberinya banyak hal yang dulu bahkan tak sempat dia bayangkan. “Karena terus terang saya dapat prestasi di PSIM, dapat nama juga di situ, dapat nafkah juga di situ. PSIM selalu di hati,” kata Didik.

Selain memperkuat PSIM, Didik ketika masih aktif sebagai pemain pernah memperkuat beberapa klub lain. Seperti Persipur Purwodadi, PPSM Magelang, dan PSSB Bireun. Banyak pengalaman menarik yang dialami oleh Didik selama memperkuat klub tersebut.

Namun, yang paling diingat adalah Didik selalu mendapatkan menit bermain secara reguler ketika bermain di klub-klub selain PSIM. “Kalau main di luar malah saya main terus, kalau di PSIM selalu di bawah Ony,” kata Didik sembari tertawa.

Belasan tahun menjalani karir sebagai penjaga gawang, Didik tentu sempat merasakan dilatih oleh pelatih-pelatih dengan tiper yang berbeda. Kendati demikian, ada dua pelatih kiper yang dianggap sangat berpengaruh dalam karirnya. Dua sosok tersebut adalah FX Tjahjono dan Siswadi Gancis.

Kedua sosok itu dianggap Didik mampu menanamkan mentalitas yang kuat dalam dirinya. Terutama Siswadi Gancis yang memang juga salah satu legenda di PSIM Jogja. “Saya juga menerapkan beberapa gaya Pak Gancis dalam melatih kiper kepada kiper-kiper PSIM yang sekarang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Didik juga berbicara mengenai perbedaan penjaga gawang dulu dengan sekarang. Menurut dia, penjaga gawang era sekarang bukan hanya harus bisa menahan bola agar tidak masuk ke gawang. Mereka juga dituntut untuk mampu menggunakan kakinya dengan baik. “Artinya mereka harus bisa berperan dalam pembangunan serangan tim,” tandas Didik.(din)

Jogja Sport