RADAR JOGJA –  Perawakan Heri tidak terlalu besar. Tinggi badannya hanya 170 cm. Berat badannya juga di kisaran 60 kilogram. Namun, dibalik perawakanya yang tidak terlalu besar itu terdapat otot-otot yang tampak kencang dan kokoh. Heri salah satu petinju profesional milik DIJ. Penampilannya di ajang tinju berbagai level di dalam negeri dan internasional cukup konsisten. Sejak menjalani debut di level profesional pada 2004 yang lalu, Heri masih berlaga di atas ring.

Terbaru, Heri bertanding melawan petinju Malaysia, Eswaran Murali di Johor Bahru, Malaysia, akhir tahun lalu. Heri kalah angka dari petinju tuan rumah.
Dia mengaku tidak terlalu kaget dengan kekalahan itu. Menurutnya, sangat sulit membuat KO (knockouts) melawan petinju tuan rumah.

”Biasanya petinju tuan rumah kerap diselamatkan wasit atau juri,” kata Heri.
Apalagi berlaga di luar negeri. Ini menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, dia mengungkapkan pengalamannya diajak bermain curang. Heri mengaku pernah ditawari sejumlah uang untuk sengaja mengalah. ”Jumlahnya lumayan, tapi saya tidak pernah terima,” tegasnya.

Penolakan tersebut didasari atas prinsipnya mementingkan harga diri, ketimbang sejumlah uang. ”Bisa dicari dengan cara yang lebih baik,” katanya.

Memasuki usia senja bagi seorang atlet, Heri belum berpikir untuk gantung sarung tinju. Justru, bertambahnya umur memotivasinya untuk terus naik ring.
Dia berkaca pada rekannya. Meski sudah menginjak usia kepala empat, tapi masih bisa meraih gelar juara nasional.

”Ada petinju Magelang yang sudah 48 tahun tapi masih bisa bersaing di level nasional. Kalau dia bisa masa saya tidak bisa,” begitu tekadnya.
Kendati demikian, bukan berarti Heri tak akan pensiun. Sosok yang mengidolakan Mike Tyson dan Chris John sudah menyiapkan bekal untuk hari tua ketika pensiun nanti.

Selain menjadi salah satu karyawan di Pemerintahan Kabupaten Kulonprogo, Heri juga memiliki pusat kebugaran sendiri bernama Herry Academy.
Pusat kebugaran yang terletak di Wates tersebut, digunakan Heri untuk melatih petinju-petinju muda di sekitar Kulonprogo. Dia pun membuka kelas untuk masyarakat biasa yang sekedar ingin menjaga kebugaran.
”Saya punya kemampuan di tinju, saya ingin tularkan ke masyarakat,” kata petinju peringkat dua nasional tersebut.

Menurutnya, Jogjakarta memiliki banyak petinju muda berbakat. Namun, menurut dia, para petinju itu agak ragu untuk menjadi petinju profesional. Seharusnya jika ada petinju muda yang berprestasi, pemerintah bisa memberikan hadiah berupa pekerjaan.

”Itu sangat membantu para petinju muda itu,” tandasnya.
Heri juga berbicara mengenai kondisi tinju di Indonesia. Menurutnya, setelah era Chris John berakhir, dunia tinju Tanah Air seperti sedikit sepi.
Dicontohkan bagaimana saat ini jarang dijumpai kejuaraan tinju nasional. Terutama yang disiarkan langsung oleh televisi nasional.
”Berbeda dengan lima atau 10 tahun yang lalu yang cukup marak gelaran tinju nasional di televise nasional,” keluhnya.

Saat ini Heri sedang melakukan persiapan intens jelang menghadapi pertandingan selanjutnya. Pada akhir Februari nanti, Heri akan menjalani sebuah pertandingan tinju di Korea Selatan. Heri akan menghadapi petinju tuan rumah pada pertandingan tersebut. (kur/bhn)

Jogja Sport