SLEMAN – PSS Sleman menjamu Bhayangkara FC dalam lanjutan Liga 1, di Stadion Maguwoharjo, Jumat (21/6). Laga ini akan menjadi momentum PSS Sleman untuk meraih poin penuh di hadapan para pendukungnya.

Sayang, ambisi Super Elang Jawa- julukan PSS Sleman ini terganggu dengan cederanya sejumlah pilar utama. Mereka adalah kipper Ega Rizky, Dave Mustaine, Ikhwan Ciptady, Brian Ferreira, dan  Guilherme Batata.

Selain Guilherme Felipe de Castro, nama lengkap Batata kebugarannya akan direkomendasikan tim medis hari ini. Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantara berharap para pemain pilar ini bugar dan siap dimainkan.

Khusus untuk Batata,sbelum sekalipun dimainkan PSS Sleman dalam kompetisi resmi Liga 1. Ini lantaran cedera betisnya tak kunjung sembuh.  Batata dipastikan juga tidak akan diturunkan besok.

CEO PT PSS Viola Kurniawati setelah berkonsultasi dengan tim medis dan pelatih memutuskan untuk memberi tenggat waktu sampai akhir Juli mendatang. “Kalau tidak bisa dimainkan ya kami coret,” jelasnya.

PSS Sleman jelas merugi saat pemain asing yang dikontraknya tidak pernah pernah merumput di pertandingan. Setidaknya Batata sudah melewatkan tiga kali pertandingan. Selama ini Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantara telah menerapkan skema permainan tanpa melibatkan Batata.

Viola mengira sejak awal memang ada riwayat penyakit yang membuatnya tidak kunjung sembuh. “Ada kemungkinan durasi latihan. Tapi kan semua mendapat durasi latihan yang sama. Mungkin karena ada riwayat tertentu,” jelasnya.

Sekalipun demikian, dia berharap Batata dapat segera dimainkan. Sebab, nilai kontrak Batata sebagai pemain asing terhitung tinggi. Jika tidak kunjung membela timnya, kerugian cukup besar jelas ditanggung oleh PT PSS.

Setidaknya jika Batata benar-benar dicoret, PSS bisa sedikit mengurangi kerugian karena tidak lagi menanggung operasional pemain asing tersebut. “Tentu ada semacam kompensasi dari agen. Itu sudah tertulis dalam klausul kontrak,” jelasnya.

Ketidakhadiran Batata selama ini digantikan oleh Nerius Alom dan Wahyu Sukarta di lini tengah. Seto menjelaskan kualitas pemainnya dalam level yang sama namun hanya tipe permainannya yang berbeda. (cr10/din/by)

Jogja Sport