DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
WASPADA: GBPH Prabukusumo berbicara dalam sosialisasi tentang bahaya doping kepada para pelatih di KONI DIJ, Sabtu (16/4).
JOGJA- Menjelang PON, KONI DIJ berupaya agar semua atletnya bersih dan tidak terjerat doping. Antisipasi dilakukan dengan menyosialisasikan apa saja yang masuk dalam kategori doping.

Ketua Umum KONI DIJ GBPH Prabukusumo mengatakan pemahaman atlet tentang doping masih minim. Hal tersebut terlihat dari hasil wawancara dan psikotes para atlet Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) PON.

“Untuk itu, peran pelatih sangat penting. Para pelatih harus memahami apa saja atau obat-obatan apa saja yang bisa digolongkan doping,” ujar Prabukusumo kepada seluruh pelatih cabang olahraga (cabor) di Kantor KONI DIJ, Sabtu (16/4).

Dikatakan, sosialisai ini diperlukan untuk mengantisipasi agar atlet-atlet yang tampil di PON 2016 tidak ada yang terkena kasus doping. Sebab, bukan saja memalukan dan merugikan nama DIJ, namun otomatis mematikan prestasi atlet itu sendiri.

Dalam kejuaraan multievent terbesar di tanah air ini ada 573 atlet yang menjadi wakil DIJ. Ini merupakan skuad terbesar dalam sejarah keikutsertaan DIJ di ajang PON.

“Jangan sampai kerja keras para atlet yang sudah lolos ke PON dan bisa meraih prestasi di PON, medalinya sudah dikalungkan tapi harus dicabut,” ujar Prabukusumo.

Sementara itu, tim kesehatan KONI DIJ Dr. dr. BM Wara Kushatanti MS mengatakan, para pelatih harus memahami beberapa kandungan zat pada obat yang termasuk dalam kategori doping. Antara lai Pseudoephedrine, Ephedrine, Salbutamol, Methylenedioxymethamphetamine (MDMA-Ecstacy), Cocaine, Androstenedione, Nandrolone, Stanozolol, Clenbuterol, Testosterone, Cannabinoids (Marijuana), Prednisolone, dan Methylhexanamine. Beberapa zat tersebut kerap ditemui pada obat batuk, flu, asma, suplemen, minuman penambah energi, campuran pada jamu, maupun obat herbal.

“Termasuk juga anti radang yang biasanya gunakan obat steroid. Walaupun memang memberikan efek pemulihan lebih cepat, namun steroid termasuk doping,” ujar Kepala Pusat Penanganan Cedera Olahraga dengan therapy massage KONI DIJ ini.

Untuk itu, diimbau atlet meminta saran dokter yang memeriksa dengan obat anti radang nonsteroid. Dijelaskan, yang masuk doping itu suatu zat jika minimal memenuhi dua dari tiga kriteria, yakni zat tersebut berpotensi untuk meningkatkan performa olahraga, zat tersebut potensial menganggu kesehatan atlet, dan melanggar nilai-nilai olahraga. Pada dasarnya doping berbahaya bagi kesehatan.

Untuk memonitor penggunaan doping, pihaknya mengimbau pelatih untuk melakukan pemeriksaan intensif tiga bulan menjelang PON 2016. Bisa dengan mengonfirmasikan beragam obat maupun suplemen yang akan dikonsumsi kepada tim kesehatan KONI DIJ terlebih dahulu.

Begitu pula dengan makanan maupun minuman yang dikonsumsi atlet selama empat bulan terakhir, hendaknya diketahui pelatih.

“Ketika atlet sakit dan diperiksa ke dokter ataupun rumah sakit boleh-boleh saja. Namun diinformasikan obat yang dikonsumsi disertai surat keterangan dari dokter maupun rumah sakit,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan, atlet yang sakit asma tetap boleh diberikan Salbutamol, namun disertai surat keterangan dokter. Agar bisa diberi penguatan informasi bahwa memang mengalami asma dan gunakan obat tersebut.

Selain memahami apa saja yang masuk dalam kategori doping, dirinya mengimbau agar atlet melakukan gaya hidup sehat dengan menghindari rokok dan suplemen. Namun mengganti dengan madu, susu murni, kacang hijau, kacang kapri, kacang kedelai, buah dan sayuran yang mengandung antioksidan.

“Para pelatih juga perlu memperhatikan gizi para atletnya, terutama dalam memenuhi kebutuhan kalsium, mineral, dan glukosa sebagai energi. Agar program latihan bisa optimal,” ujarnya.(dya/iwa)

Jogja Sport