SLEMAN – Puluhan penerjun menyerbu Keboen Radja, Jumat malam (25/3). Hadirnya para penerjun ini untuk meramaikan reuni Mataram Sport Parachute Club (MSPC). Seluruhnya berkumpul dan larut dalam kebahagiaan ini. Beberapa tembang lawas pun turut menemani saat para penggawanya mengenang masa lalu mereka.

Selain para senior, temu kangen ini juga melibatkan para penerjun muda. Suara gelak tawa terdengar ketika mereka bercerita dan berbagi pengalaman. Tidak hanya penerjun asal Jogjakarta, acara ini juga menarik penerjun luar daerah seperti dari Solo, Malang, Pontianak hingga Manado.

“Bersamaan kegiatan Jogja Air Show 2016 yang sedang berlangsung, kita memutuskan untuk kumpul bersama. MSPC sendiri sudah berdiri sejak 1976, hingga saat ini jumlah anggotanya mencapai sekitar 240-an penerjun,” kata Ketua MSPC Hendro Suryono.

Banyak cerita menarik ketika para penerjun ini berkumpul. Salah satunya adalah syarat untuk menjadi seorang penerjun. Bahkan seputar pengalaman pahit hingga kenangan lucu yang tak bisa dilupakan. Pengalaman-pengalaman ini justru datang dari para penerjun senior pendiri MSPC.

Seperti Nufiar Suryadi yang saat ini sudah berusia 63 tahun. Kala itu tahun 1980-an ia terjun bersama ketiga rekannya. Salah satunya Bejo Ludiro, 60, yang ditunjuk sebagai pembuka saat terjun.

“Biasanya dia terjun dengan memberi kode terlebih dahulu. Ini kok tidak, tahu-tahu loncat. Otomatis yang lain ikut loncat, tinggal saya sendiri di pesawat. Setelah itu, ya saya langsung loncat,” kenangnya.

Kedekatan MSPC dengan TNI Angkatan Udara ternyata membangun relasi persahabatan. Maka dari itu sekretariat MSPC berada di kompleks TNI AU. MSPC menerapkan standar seorang penerbang untuk bergabung dalam klub ini.

Bejo mengungkapkan olahraga ini memang penuh risiko dan bahaya. Meski begitu, harus ditempuh untuk mengalahkan rasa takut. Kunci utama adalah mampu mengendalikan diri. Terutama membatasi diri agar tidak jumawa dan tinggi hati.

“Kadang tidak kontrol diri dan ini membahayakan bagi diri sendiri. Menyelami olahraga ini, kita belajar apa itu disiplin, tanggung jawab dan kerja sama dalam tim,” katanya.

Peran MSPC tidak hanya mewadahi para penerjun sipil. Peran klub ini juga dirasakan dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Tahun ini MSPC mengirimkan tim putri beregu dan putra perorangan untuk mewakili DIJ dalam ajang PON.

“Pada dasarnya semua orang bisa bergabung dengan MSPC. Sejak 1976 mayoritas anggotanya justru mahasiswa, selain TNI dan Polri. Kita juga aktif dalam berbagai agenda kegiatan, termasuk cabang olahraga penerjun,” kata Hendro. (dwi/laz/ong)

Jogja Sport