JOGJA – Biaya pengeluaran kontingen PON DIJ bisa ditekan. Biaya untuk akomodasi atlet tidak harus full selama pelaksanaan PON.

Demikian titik cerah soal biaya keberangkatan atlet-atlet DIJ terutama yang masuk dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Mandiri. Keputusan tersebut berdasar pertemuan seluruh perwakilan daerah peserta PON 2016.

“Kami dapatkan kepastian biaya yang harus dibayarkan bisa bergantung pada jadwal pertandingan masing-masing cabang olahraga,” ujar Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI DIJ Agung Nugroho, kemarin.

Penghitungan terakhir, masing-masing atlet membutuhkan biaya sekitar Rp 12 juta. Asumsinya, lama berada di Jawa barat dua minggu (selama PON 2016 berlangsung). Namun, dengan kebijakan tersebut, biaya akomodasi bisa berbeda sesuai dengan lamanya pertandingan.

Agung mengatakan, jika salah satu cabor akan menjalani pertandingan selama lima hari, maka KONI DIJ akan mengalokasikan lama atlet di Jawa Barat sekitar sembilan hari. Karena akan ditambah dua hari sebelum pertandingan dan dua hari setelah pertandingan.

“Dengan kebijakan dari PB PON, membantu kami menekan biaya. Meski untuk cabor permainan kemungkinan tetap akan besar karena sudah banyak atletnya,” ujar Agung. Pertemuan dengan semua cabor akan digelar pada Sabtu (19/3) ini.

Bendahara KONI DIJ Suhartono SE menegaskan, KONI DIJ tetap berupaya memberangkatkan semua atlet yang lolos ke PON 2016. Kebijakan PB PON tersebut membantu KONI DIJ menekan biaya.

“Pada prinsipnya kami ingin semua atlet berangkat. Kami juga tengah menghitung ulang kebutuhan atlet, khusus mandiri, agar bisa lebih ditekan,” ujar Suhartono.

Pihaknya juga masih berusaha melakukan pengajuan dana tambahan kepada pemprov, guna menutup kekurangan. Dana Rp 20 miliar masih belum cukup menutup biaya persiapan dan keberangkatan atlet ke PON Jawa Barat. Karena setelah penghitungan, biaya yang diperlukan sudah mencapai angka Rp 26 miliar.

Pelatih Tim Polo Air DIJ, Arief Bakri Suryo mengatakan, biaya per atlet Rp 12 juta lebih. Jumlah tersebut memberatkan.

Meskipun KONI DIJ sudah memberikan subsidi separo, masih memberatkan. Hal ini mengganggu konsentrasi atlet dalam persiapan menghadapi PON. Terutama tim putra yang masuk program Puslatda Mandiri.

“Untuk berlatih saja anak-anak sudah mengeluarkan biaya sendiri dan iuran sebulan Rp 150 ribu. Mereka harus iuran lagi untuk berangkat ke PON sebesar Rp 6,6 juta, itu berat,” ujar Arief. (dya/iwa/ong)

Jogja Sport