JOGJA-Pendanaan masih jadi batu sandungan pengurus daerah (Pengda) cabang olahraga (cabor) dalam persiapan atlet menuju PON 2016. Itu terutama bagi cabor yang atletnya tidak masuk dalam kriteria KONI DIJ dan harus menjalani program pemusatan latihan daerah (Puslatda) mandiri.

Nah, penggalangan dana menjadi salah satu cara untuk mengatrol pemasukan untuk biaya atlet menuju PON yang akan digelar September mendatang di Jawa Barat. “Itu rencana kami. Tapi kami kami menunggu pertanggungjawaban KONI DIJ selaku pemangku olahraga,” ujar Sekretaris Umum FHI DIJ Yudi Bontot kemarin (2/3).

Yudi mengatakan, pihaknya dan beberapa Pengda yang memiliki nasib serupa, masih menunggu pergerakan KONI DIJ untuk mengajukan permohonan dana tambahan ke Pemprov DIJ.

Untuk penggalangan dana, pengd-pengda masing-masing cabor juga tidak ingin berjalan sendiri-sendiri. Harapannya, tentu KONI akan bergandengan. Sebab, nantinya para atlet berangkat bukan atas nama pengda saja tatapi daerah. “Pertengahan bulan kami mau menghadap ketua umum KONI DIJ. Kami ingin mengadakan penggalangan dana yang dikoordinasi KONI DIJ,” ujarnya.

Namun jika rencana itu tidak terwujud, pihaknya akan secara mandiri membuat event penggalangan dana. “Kami tetap upayakan agar keberangkatan atlet ke PON untuk mewakili nama Jogjakarta justru membebani karena harus membayar RP 6,6 juta. Karena untuk latihan saja sudah biaya sendiri, perjuangan atlet untuk bisa lolos ke PON pun tidak mudah,” paparnya.

Ketua Umum KONI DIJ GBPH Prabukusumo mengatakan, pihaknya masih akan mengupayakan menghadap ke pemprov. Harapannya, juga akan disertai dengan semua pengda cabor. “Agar mereka bisa secara langsung mengungkapkan keluh kesahnya. Sehingga pemerintah juga ada perhatiannya,” ujarnya.

Menurutnya, KONI DIJ hanya memiliki dana Rp 20 miliar. Dana tersebut masih kurang. Dengan perhitungan biaya keberangkatan tim bisa mencapai RP 26 miliar. Itu pun KONI DIJ hanya mampu memberikan subsidi untuk atlet mandiri hanya separuhnya, yakni RP 6,6 juta. Sedangkan perkiraan biaya selama di Jawa Barat RP 13,5 juta. “Latihan masih harus mereka tanggung sendiri. Jangankan yang mandiri, yang regular pun demikian. Mereka harus patungan untuk sewa tempat latihan,” ujarnya.(dya/din/ong)

Jogja Sport