JOGJA – Meskipun sudah lebih dari satu pekan mengakhiri petualangan di kompetisi Divisi Utama 2014, PSIM Jogja nyatanya belum menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban (LPj) kepada Katua Umum (Katum) PSIM Jogja Haryadi Suyuti.Padahal mereka sempat menargetkan akhir pekan lalu pertanggungjawaban sudah rampung. Molornya pembuatan serta penyerahan LPj ternyata memang erat kaitannya dengan beberapa tunggakan yang belum diselesaikan manajemen PSIM. Terutama utang gaji kepada pelatih Seto Nurdiyantara beserta seluruh jajarannya.Direktur Operasional PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) yang juga Sekretaris Umum (Sekum) PSIM Jarot Sri Kastawa mengatakan, sejatinya manajemen ingin masalah pertanggungjawaban cepat selesai. Namun rasanya kurang etis jika tunggakan belum lunas namun LPj sudah jadi. “Kalau dalam LPj kami masih punya tunggakan itu sama saja membebani pengurus musim berikutnya. Karena itulah kami harus melunasi tunggakan yang kami bisa bayar, yang utama ya gaji pelatih,” jelasnya.
Berbeda dengan pemain yang sudah menerima seluruh gajinya, tim kepelatihan masih harus menunggu bayaran bulan Juli dan Agustus. Pada laga terakhir Divisi Utama 2014 melawan Persinga Ngawi, para pemain PSIM nyaris mogok lantaran menunjukkan rasa solidaritasnya kepada pelatih.Untungnya atas bantuan beberapa sesepuh PSIM, manajemen dapat meyakinkan pemain untuk tetap turun. Sebab jika saat itu WO, PSIM bakal terdegradasi ke Liga Nusantara. “Seperti yang kami utarakan sebelumnya gaji pelatih ini memang menjadi sesuatu yang amat kami prioritaskan. Sebab pelatih sudah sangat berjasa membawa PSIM tampil bagus dengan materi pemain muda. Sayangnya kami gagal lolos ke babak 16 besar,” tambahnya.Selain gaji pelatih, PSIM juga masih menunggak bonus seri tandang kontra PSBK Blitar serta uang bantuan sepatu. Kata Jarot kedua hal ini juga sedang diusahakan. “Uang bantuan sepatu dan bonus seri tandang lawan PSBK juga penting. Kami akan selesaikan dua hal itu juga. Setelah itu baru susun LPj,” paparnya. (nes/din)

Jogja Sport