SLEMAN – Selain untuk menjaga panasnya mesin perang PSS Sleman, pertandingan uji coba yang digelar di Maguwoharjo International Stadium (MIS) Minggu (22/6) lalu juga ditujukan agar kesehatan finansial Super Elang Jawa (Super Elja) tetap terjaga. Sayangnya, pertandingan teraebut seolah sia-sia karena PSS gagal mendapatkan keuntungan mengadakan pertandingan uji coba.
Berdasarkan data yang dihimpun panpel, kemarin PSS hanya mampu menjual 6.000 lembar tiket saja. Memang terlihat, hanya tribun selatan saja yang terlihat penuh dengan penonton. Tribun tersebut memang selalu menjadi ladang pemasukan PSS lantaran suporter yang menempati sektor itu Brigata Curva Sud sangat setia dalam mendukung Super Elja.
Saat dimintai keterangan kemarin (23/6), Sekretaris Panpel Edyanto menyatakan panpel sama sekali tidak meraup keuntungan dalam pertandingan menghadapi PSMP. Kalaupun ada laba, jumlahnya sangat sedikit. “Ya, kami tidak meraup pemasukan signifikan pada pertandingan melawan PSMP. Hal ini sangat disayangkan tentunya karena pertandingtan ini sebenarnya kan menjadi ajang PS meraup pemasukan,” jelas pria yang juga pengurus Asprov PSSI DIJ tersebut.
Edy mengaku tidak mengetahui pasti nominal pemasukan. Tapi dia memperkirakan paling banyak panpel hanya mendapatkan Rp 120 juta saja. Ini jelas jauh di bawah biasanya. Di partai resmi PSS selalu mampu mendapatkan uang lebih dari Rp 400 juta di laga kandang. “Memang ini hanya pertandingan uji coba. Namun kalau pemasukannya cuma segini jelas nggak bagus. Ya paling-paling uang yang bisa kami raup hanya Rp 120 juta saja,” sergahnya.
Edy menengarai perubahan lawan dari Persebaya Surabaya ke PSMP Mojokerto Putra menjadi faktor utama lesunya animo penonton. Ya, semula penonton sudah sangat menghadapkan bisa melihat aksi Persebaya yang dihuni banyak pemain bintang. Namun secara tiba-tiba PSS hanya menghadapi sesama peserta kompetisi kasta kedua. Selain itu pertandingan yang digelar Sore Hari juga menjadi penyebabnya. Edy optimistis bila kick off digelar malam masyarakat Sleman bakal lebih antusias menyaksikan pertandingan. “Ya ada beberapa faktor yang menyebabkan animo penonton sangat lesu. Contohnya ya ini, pergantian lawan dan pertandingan yang digelar sore,” jelasnya.
Namun soal laga sore hari, hal itu memang mau tidak mau dilakukan PSS. Ya, di masa kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) seperti sekarang biaya keamanan membengkak. Karena hal itulah memang tidak memungkinkan menghelat laga pukul 19.00. “Pertandingan sore saja biaya operasional sudah tembus Rp. 100 juta, apalagi kalau malam hari. Karena itulah memang tak memungkinkan menghelat laga malam di saat seperti sekarang,” paparnya.
Terpisah, Manajer PSS Sukoco mengatakan dirinya juga agak menyesalkan dengan surutnya animo penonton Minggu (22/6) lalu. Ia berharap pada laga uji coba awal Ramadan nanti, gairah masyarakat Sleman menonton PSS meningkat. (nes/din)

Jogja Sport