Kurang dari dua pekan sebelum kick off Divisi Utama 2014, PSS Sleman masih dilanda kekalutan. Sebagian besar pemain memang sudah mendapatkan kontrak sekaligus gaji pertama dari PT Puta Sleman Sembada. Namun sayangnya hingga kini Super Elang Jawa (Super Elja) belum juga memiliki manajemen definitif.
Tapi belakangan ini, siapa sosok yang bakal menggantikan Supardjiono di kursi manajer mulai mengerucut. Ya, pelatih Sartono Anwar digadang-gadang bakal merangkap jabatan sebagai manajer. Sayangnya, meskipun didukung oleh pemain, pengangkatan Sartono sebagai manajer tim tak mendapatkan support semua pihak. Sesepuh sepak bola Sleman Hendricus Mulyono mengatakan Sartono bakal memilkul tugas terlalu berat jika disuruh rangkap jabatan sebagai manajer.
“Saya tidak setuju dengan wacana tersebut. Sebab tugas manajer tim di Indonesia itu sangat berat karena harus mengkondisikan pemain saat main kandang maupun tandang,” imbuhnya.
Lagipula kata pria yang akrab disapa Mbah Mul ini menuturkan kalau kultur sepak bola di Indonesia dan Eropa sangat berbeda. Sehingga konsep coach manager dirasanya kurang tepat diterapkan di Indonesia.
Ya, sepak bola Indonesia memang belum bisa lepas dari faktor nonteknis. “Sekarang tanpa manajer tim yang memiliki lobi kuat, PSS bisa-bisa kesulitan dalam menghadapi upaya-upaya nonteknis yang mungkin dilakukan lawan,” terangnya.
Mbah Mul mengaku kecewa dengan lambannya PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) menunjuk manajer baru. Saat kompetisi sudah di ambang pintu, badan hukum pimpinan pengusaha Soekeno tersebut belum juga melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Padahal, tim kecil yang juga digawangi Mbah Mul sudah memberikan beberapa rerkomendasi untuk PT PSS. Tapi kenyataannya sampai kini PT PSS terlihat adem ayem.
“Kami sudah memberikan rekomendasi, seharusnya ya segera dieksekusi. Tapi kenyataannya pergerakan dari PT PSS masih sangat lamban,” imbuhnya.
Ketua Slemania Supriyoko juga tidak mempermasalahkan jika Sartono merangkap jabatan sebagai manajer.(nes/din)
 

Jogja Sport