RADAR JOGJA – Pengendalian HIV dan AIDS masih menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Jogja. Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengungkapkan sepanjang tahun 2004 hingga 2022 ada sebanyak 1.492 kasus HIV dan 309 kasus AIDS.

Temuan kasus terbaru pada 2022 ada sebanyak 71 kasus HIV dan 5 kasus AIDS. Beberapa kalangan yang menjadi sasaran untuk mendapatkan tes HIV. Paling banyak menyasar pada kelompok Wanita Pekerja Seks (WPS) dan Lelaki Seks Lelaki (LSL).

“Disusul oleh kelompok waria, pengguna napsa dan jarum suntik, warga binaan pemasyarakatan, dan kelompok lainnya,” jelas Emma saat memberi paparan di Balai Kota Jogja, Rabu (25/1).

Emma menyebut jumlah temuan kasus HIV dan AIDS di Kota Jogja belum bisa menggambarkan jumlah sebenarnya. Menurutnya ini selayaknya fenomena gunung es. Masih banyak kasus yang belum terungkap ke permukaan.

“Kendalanya, karena masih tingginya stigma di masyarakat terhadap orang yang terinfeksi HIV,” katanya.

Untuk itu, Dinkes Kota Jogja turut menggandeng Unit Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau Community Development (UPKM/ CD) Bethesda YAKKUM. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka mengendalikan angka HIV dan AIDS. Utamanya lingkup wilayah Kota Jogja. 

Direktur UPKM/CD Bethesda YAKKUM Wahyu Priyo Saptono menjelaskan program pengendalian terpadu HIV/AIDS berlangsung dalam tiga strategi. Diantaranya adalah pengendalian HIV secara struktural, biomedical, dan peningkatan kesadaran serta kampanye HIV dan AIDS.

“Menyasar pada Warga Peduli AIDS (WPA) di 8 kelurahan di Kota Jogja. Selain itu juga menyasar kepada mahasiswa, ibu rumah tangga, dan pekerja seks di wilayah intervensi,” ujarnya.

Wahyu berharap upaya komprehensif ini dapat mewujudkan three zero HIV. Diantaranya adalah eliminasi infeksi baru HIV, eliminasi kematian karena AIDS dan eliminasi diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV).

“Harapannya juga dapat memberikan kontribusi positif terhadap program yang dilaksanakan Pemkot Jogja,” kata Wahyu. (isa/dwi)

Jogja Raya