RADAR JOGJA – Bagi warga Tionghoa, Imlek adalah momentum hikmat untuk menjalani introspeksi. Oleh sebab itu, gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dilaksanakan mulai hari ke-15 penanggalan Tionghoa atau saat Cap Go Meh. Berlangsung tujuh hari, event ini diharapkan dapat menjadi salah satu potensi wisata Kota Jogja.

Ketua Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Tandean Harry Setio menjelaskan, Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. “Kami ambil pembubaran, tanggal 15 setelah Imlek,” paparnya saat diwawancarai Radar Jogja di Kampung Ketandan, Kota Jogja.

Dalam penanggalan nasional, PBTY dijadwalkan terselenggara pada 30 Januari sampai 4 Februari 2023. Gelaran akan menyuguhkan enam panggung di Kampung Ketandan. Ditambah satu panggung di Titik Nol Kilometer. “Tanggal 4 Februari ada karnaval besar, kebetulan berbarengan dengan ATF (ASEAN Tourism Forum) dari 30 negara,” ujarnya.

PBTY tahun ini akan mengusung tema ‘Bangkit Jogjaku untuk Indonesia’. Berisi harapan untuk kembali menggeliatkan ekonomi setelah pandemi. “Hook kami adalah keluar dari pandemi secepat mungkin, menggulirkan sektor ekonomi dan pariwisata. Dari rakyat bisa bergulir, rakyat bisa makan, bisa semuanya senang. Kalau ekonomi kuat, negara pun kuat,” jelasnya.

Harry juga membeberkan, ada sekitar 180 pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang akan terlibat dalam PBTY. Mereka disediakan lapak yang menjajar, di sepanjang gang-gang kawasan pecinan ini untuk memperkenalkan produknya. “Itu kami kurasi dari sekitar 300 pendaftar yang mengajukan diri,” ungkapnya.

Terkait pemilihan Kampung Ketandan, Harry menjabarkan, lokasi ini merupakan titik penting bagi peranakan Tionghoa di DIJ. Namun, sekaligus sebagai simbol pembauran seluruh warga DIJ.

“Kami mengusung kawasan, peran serta masyarakat Tionghoa terhadap Jogjakarta di bidang seni budaya dan ekonomi. Kemudian ikut menyemarakkan kota ini sebagai kota toleran. Ketandan juga mirip living museum. Kebetulan juga turut mendukung sumbu filosofi. PBTY sendiri, sebetulnya menurut saya bukan cuma punya orang Tionghoa, tapi sudah milik Kota Jogja,” jelasnya.

Terpisah, peneliti bangunan cagar budaya (BCB) di Jurnal Al-Jami’ah, Rezza Maulana menjelaskan, Ketandan justru menjadi tempat pertemuan Tionghoa, Jawa, Banjar, dan suku lain. “Itu tempatnya sangat melting pot,” lontarnya.

Pemerintah kolonial Belanda menjadi otoritas dalam pengorganisasian penduduk pada awal berdirinya Jogjakarta. Demi kemudahan memantau pergerakan masyarakat, pemerintah kolonial mengelompokkan permukiman berdasar suku atau etnisnya. Salah satunya, warga Tionghoa mendapat lokasi permukiman di Ketandan. “Untuk menjadi pecinan, itu karena warisannya Belanda,” cetusnya.

Dibanding kawasan pecinan lainnya di Jogja, kata Rezza, Ketandan memang paling menonjol. Sebab di lokasi tersebut terdapat sebuah kantor dagang milik warga Tionghoa paling tersohor, Tan Jin Sing. Saat ini kantor dagang itu justru dikenal sebagai rumah Tan Jin Sing.

Tan Jin Sing terkenal karena berbagai capaiannya. Salah satunya, ia berkontribusi dalam pengangkatan Sultan HB III. “Dia diangkat menjadi bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat,” ujarnya. (fat/laz)

Jogja Raya