RADAR JOGJA – Kesibukan mengarungi kelompok kesenian Barongsai Naga Selatan. Pada perayaan Imlek tahun kelinci air ini, mereka banjir pesanan. Pesanan sehari empat sampai lima kali di lakoninya.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Sepasang barongsai merah dan hijau menari lincah. Mereka sukses memukau pengunjung Sleman City Hall (SCH), Jumat (20/1). Diiringi pukulan tambur dan sorakan penonton, barongsai semakin bersemangat melakukan atraksinya.
“Barongsai ini dimainkan anak-anak muda. Rata-rata berusia 15 tahun,” ungkap Koordinator Show Imlek 2023 Kelompok Kesenian Barongsai Naga Selatan Danang Suparyanto saat ditemui (20/1).

Barongsai Naga Selatan berasal dari Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Dibentuk sejak 2007 lalu, ini merupakan generasi ke empatnya. Sebelum kelompok ini berdiri, leluhurnya dulu membentuk kelompok Sinar Mataram. Kendati begitu, kelompok ini vakum.

Namun tak disangka, percikan semangat tumbuh kembali di kalangan anak muda. Hingga akhirnya mendapatkan support dari masyarakat setempat dan berlanjut hingga kini.

Nah, untuk menjadi pemain barongsai harus menguasai ilmu beladiri, yakni wushu. Dan pada 2007, itu pada awalnya pelatihan dilakukan di Muntilan, Kabupaten Magelang, hingga akhirnya pindah di Kasihan.

Tak ada tema khusus permainan barongsai kali ini. Namun terbaru, naga LED. Naga yang bisa menyala karena dibalut dengan lampu LED. Berbeda dengan tahun sebelum pandemi yang banyak mengolaborasikan barongsai dengan kesenian lokal. Seperti barongsai dikolaborasikan dengan wayang, gamelan, tari kecak dan lain-lain. Sehingga lebih menarik dan menggugah nilai dari kebinekaan dan akulturasi budaya. “Dua tahun pandemi Covid-19, pelatihan sempat vakum. Sehingga kami minim latihan dan persiapan,” kata Danang.

Di sisi lain, waktunya mepet dan banjir orderan. Seperti Jumat lalu. Barongsai Naga Selatan di-booking di setiap lantai SCH. Mulai dari acara Pemkab Sleman hingga tampil di gerai-gerai toko dalam mal tersebut.

Pemain barongsai umumnya berjumlah 12 orang. Selain pemain, sebagaian kecil memainkan alat musik pukul berupa tambur. Kemudian lama permainan rata-rata berdurasi 15 menit. Pertunjukan barongsai paling sederhana dibanderol Rp 3,5 juta. Namun, ongkos itu disesuaikan dengan permintaan konsumen.

Tak sekadar mengajak anak-anak bermain barongsai. Melalui kelompok ini, dia ingin memberikan edukasi kepada khalayak umum, bahwa mempelajari budaya dari negeri lain tidak masalah, asal jangan melupakan budaya lokal, negeri sendiri. “Sehingga unsur kolaborasi antarkesenian diperlukan. Seperti menambahkan unsur gamelan dan lain-lainnya tadi,” ujarnya.

Selain menampilkan pertunjukaan saat Imlek, kelompok ini juga aktif mengikuti beragam perlombaan kesenian barongsai dengan kolaborasi budaya. Bahkan selama ini sudah tujuh prestasi diraihnya. “Dari tujuh itu, tiga kali juara nasional pada 2017-an,” sebutnya. (laz)

Jogja Raya