RADAR JOGJA – Pedagang jajanan di lingkungan sekolah merasa mulai dibatasi. Seminggu belakangan, siswa tidak diperkenankan untuk jajan di depan sekolah saat jam istirahat. Selain itu, kantin sekolah sudah diaktifkan.

Lek Ikis jadi salah satu pedagang yang merasa penjualannya berkurang. Saat jam istirahat dia tidak mendapati siswa jajan di tempatnya. Hal ini sudah berlangsung sekitar seminggu belakangan. “Akhir-akhir ini anak dilarang jajan di depan sekolah,” ungkapnya kepada Radar Jogja.

Lek Ikis berjualan telur gulung di depan SDN Sampangan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Jajanan yang dijualnya diklaim sehat. Lantaran mengandung protein. Kendati dia tidak pernah menguji kandungan penganan olahannya.

Lek Ikis juga mengaku tidak pernah diajak jalin komunikasi dengan sekolah, berkaitan dengan jajanan aman. “Saya kan jualan di luar sekolah, jadi nggak ada hubungannya dengan sekolah,” cetusnya.

Informasi yang diterima Lek Ikis, hanya bersumber dari wali murid. Itu pun ia tanyakan ketika ada yang jajan ke lapaknya saat menjemput anak pulang sekolah. “Jam istirahat, katanya siswa nggak boleh jajan di depan sekolah. Soalnya sekolah sudah buka kantin. Dulu saat istirahat anak boleh jajan di luar sekolah. Sekarang jadi dilarang,” paparnya.

Odel pun merasakan hal serupa dengan Lek Ikis. Odel adalah pedagang cilok di depan SMPN 4 Jogja. Sudah sekitar seminggu dia beroperasi. “Saya nggak tahu kenapa anak dilarang jajan di depan sekolah waktu istirahat,” sebutnya.
Pria 28 tahun ini mengaku baru berjualan di sekolah ini. Sebab hanya menggantikan kakaknya yang sedang tidak dapat berjualan. “Selain di sekolah, saya juga berjualan keliling. Kalau anak-anak sudah pulang,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya