RADAR JOGJA – Jajan anak-anak kini semakin beragam. Berwarna-warni dan kadangkala mengandung zat adiktif berlebihan. Tentu hal ini tak baik untuk kesehatan. Menyikapi hal itu, sekolah berperan aktif dalam menjaga jajanan sehat di lingkungan sekolah. Bukan saja mengontrol jajanan di kantin sekolah, tetapi juga memastikan jajanan di lingkungan sekolah aman dikonsumsi.

Di SDN Sidorejo, Kalasan, Sleman, misalnya. Kepala Sekolah SDN Sidorejo, Kalasan Ustadiyatun mengungkapkan, upaya yang dilakukan sekolah yakni dengan memberikan edukasi makanan sehat tidak hanya kepada anak-anak.

Melainkan seluruh warga sekolah. Mulai dari guru, staf hingga petugas kantin.
“Jajanan banyak mengandung zat pewarna, pengawet dan sebagainya agar dihindari. Anak-anak diarahkan untuk makan jajanan sehat tidak mengandung zat adiktif,” ungkap Ustadiyatun saat dihubungi Radar Jogja Minggu (22/1). Kemudian orang tua juga diberikan edukasi serta menyamakan visi dengan sekolah, terkait jajanan sehat.

“Kalau di SD Negeri Sidorejo, kantin dikelola sekolah. Dulu pedagang kaki lima memang ada yang berjualan di sekolah, tetapi sekarang tidak ada yang berjualan di sekolah,” kata perempuan yang akrab disapa Atun ini.

Hal itu karena letak sekolah di pinggir jalan dan halaman sekolah sempit. Sehingga tidak ada pedagang kaki lima. Sekalipun dulu ada pedagang kaki lima, tetap dilakukan seleksi terlebih dahulu.

“Rata-rata yang sudah menjadi kelompok atau grup pedagang kaki lima dan mendapatkan pendampingan dan pantauan Kabupaten Sleman. Mereka (pedagang kaki lima, Red) dibekali pantauan, sudah ada kartu dari kabupaten,” ujarnya.

Saat ini ada tiga penjual di kantin sekolahnya. Terkait menunya sudah dikondisikan. Ada jadwalnya. Saban hari berbeda. Beberapa menunya, antara lain, nasi gudeng, soto, bakso, nasi kuncing, termasuk gorengan dan cemilan lain sudah dikondisikan.

“Seminggu sekali kami pemantauan. Kami sudah menunjuk salah seorang guru untuk memantau apa saja yang dijual. Demikian pula soal kebersihan dan jenis makanannya apa saja. Jika ditemukan makanan yang tidak sesuai dengan aturan sekolah, nanti petugas kantin diberikan peringatan,” terangnya.

Selain itu untuk meningkatkan gizi, sebulan sekali siswa di masing-masing kelas membawa bekal saat olahraga. Mereka diminta membawa bekal nasi dan sayuran segar, sayurnya sudah ditentukan sekolah. Para orang tua diminta menyiapkan menu khusus itu. Siswa tidak boleh membawa makanan instan.

Aneka warna jajanan anak-anak di lingkungan sekolah, mengundang rasa khawatir orang tua siswa. Paramita Putri, 35, warga Mergangsan, Kota Jogja, misalnya. Apalagi belakangan banyak ditemukan jajanan berbahaya seperti ciki ngebul. Jika lengah dalam memantau jajanan anak, bisa-bisa anak jajan sembarangan tanpa mengetahui risiko jajanan itu. Sehingga, bisa menyebabkan sakit perut dan lain-lain.

“Saya kira dari BPOM sudah banyak melakukan pantauan jajanan di sekolah-sekolah. Dan sejauh ini di SD anak saya aman. Pedagang kaki lima dipantau dan kecenderungan yang berjualan, warga yang tinggal dekat sekolah,” ungkap Paramita. Begitu juga di kantin-kantin sekolah.

Menurutnya, kekhawatiran justru datang ketika anak membeli jajanan di luar sekolah. Ketika tidak terpantau sekolah maupun orang tua. Sehingga orang tua harus terus mengedukasi anak-anaknya. Agar tidak jajan sembarangan. Apalagi dilihat dari fisiknya memiliki warna berlebihan.

Peran orang tua sangat penting dalam memilihkan jajanan sehat anak. Misalnya membawakan bekal anak di setiap aktivitas. Juga memberikan edukasi terkait makanan sehat dan manfaatnya maupun dampak jajan sembarangan serta risiko terhadap kesehatan.

Dharma, 9, putera Paramita mengaku suka jajan makelor dan cilor di sekolah. Menurutnya, jajanan itu enak dan mengenyangkan. Meski dia mengaku ada perasaan takut jika membeli jajanan sembarangan. Namun dia juga mencoba membatasi diri agar makan tak berlebihan. “Ya jajan, tapi nggak sering-sering,” ujarnya singkat. (mel/laz)

Jogja Raya