RADAR JOGJA – Gabriella Christie Purnama, atau yang kerap disapa Christie, ingin memberikan hal-hal yang positif lewat kehidupan. Baik dalam tindakan dan perilakunya yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Christie sendiri merupakan Cici Jogja 2022.

Dikatakan alasannya mengikuti kontes Koko Cici Jogja karena tertarik dengan kegiatan komunitas anak muda yang melestarikan budaya Tionghoa. Menurutnya, Koko Cici Jogja adalah wadah yang bagus untuknya mengembangkan diri. “Ini suatu wadah baru yang keluar dari comfort zone. Di situ saya bisa menemukan hal yang baru buat belajar untuk mengembangkan diri,” katanya saat ditemui Radar Jogja, Kamis (19/1).

Berpredikat sebagai Cici Jogja tak hanya sebagai duta budaya Tionghoa saja. Christie juga mengemban tugas sebagai duta pariwisata dan duta sosial. Meskipun dia sendiri mengaku masih awam akan hal tersebut. Namun hal itu justru menuntunnya menuju pengembangan diri.

Christie sendiri tak menganggapnya sebagai beban. Lantaran tugas sebagai duta budaya Tionghoa, pariwisata, dan sosial diemban oleh semua finalis. Selama ini dia tak pernah merasa bertugas sendiri. Selalu dibantu oleh Koko Cici yang lain. Terutama Koko Cici Ikatan, yakni mereka yang sudah selesai menjabat di kepengurusan angkatan.

“Karena biasanya masyarakat tahunya hanya Koko dan Cici, jadi ada tanggung jawab lebih saja untuk menjaga nama baik Koko Cici Jogja,” jelasnya.

Lewat kontes tersebut, Christie belajar menjadi diri sendiri. Bagaimana bersikap dan memiliki attitude yang baik. Sebab aspek penilaian dalam Koko Cici Jogja menyangkut behavior, brain, beauty, dan talent. “Yang paling dilihat behavior, gimana bersikap, berkomunikasi dan membawakan diri di depan publik,” ujarnya.

Bagi Christie, Koko Cici Jogja adalah salah satu wadah yang bagus untuk membantu mempromosikan budaya Tionghoa. “Yang pasti saya mau menyelesaikan tanggung jawab yang ada di sini dengan baik. Karena Koko Cici Jogja juga sudah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai duta budaya Tionghoa,” ucap Christie.

Salah satu langkah yang dia terapkan adalah melanjutkan membuat konten untuk mengedukasi masyarakat lewat media sosial. Agar masyarakat lebih banyak yang tertarik dengan budaya Tionghoa. “Harapannya bisa menginspirasi anak muda karena nggak terlalu banyak anak muda sekarang yang tertarik dengan budaya Tionghoa,” harapnya.

Saat ini, Christie masih menjabat di kepengurusan Koko Cici Jogja hingga 2024 mendatang. Hingga pemilihan Koko Cici Jogja berikutnya. Bertugas di divisi eksternal. Dia sendiri berharap bisa terus aktif dalam pengenalan budaya Tionghoa. Karena setelah selesai menjabat, Christie akan masuk ke dalam Koko Cici Ikatan. “Di situ meski bukan sebagai Koko Cici angkatan yang aktif penugasan, tapi saya tetap bisa terlibat di kegiatan soal budaya Tionghoa,” jelas Christie.

Di sela kesibukannya, perempuan kelahiran 23 Juni 2001 ini memiliki hobi bermusik. Mulai dari memainkan piano, gitar, hingga bernyanyi. “Dengerin banyak musik, terutama pop dan jazz. Kalau akhir-akhir ini lagi dengerin lagu-lagunya Yura Yunita. Kadang juga beberapa kali dengerin lagu-lagu Mandarin,” katanya.

Christie saat ini tengah menyelesaikan studinya di Prodi Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Awalnya tak terpikirkan baginya untuk menjadi dokter. Setelah menimbang-nimbang akhirnya merasa cocok dan memutuskan masuk ke Fakultas Kedokteran. “Saya suka dengan pelajarannya, suka dengan dunia kerjanya juga. Salah satunya saya suka kalau bekerja itu bisa yang berkomunikasi dan ketemu sama banyak orang, kalau dokter ketemu pasien. Jadi saya merasa bidang kedokteran cocok sama passion saya,” ungkap mahasiswi angkatan 2019 ini.

Bermanfaat bagi banyak orang menjadi salah satu tujuan hidup perempuan asal Jogja ini. Entah lewat wadah bernama Koko Cici Indonesia atau lewat latar belakang pendidikannya, kedokteran. (tyo/bah)

Jogja Raya