RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) turut berdukacita atas meninggalnya salah satu suporter PSS Sleman Tri Fajar Firmansyah. Baginya kejadian ini bisa dicegah apabila para suporter sepakbola di Jogjakarta bisa berpikir dewasa. Mengedepankan nilai sportivitas daripada semangat konflik.

Dalam kasus ini, HB X tak ingin memandang latar belakang suporter. Namun lebih kepada mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Agar tak ada lagi rasa persaingan yang fokus pada rasa ingin saling menyakiti. Tak hanya di lapangan tapi juga saat bertemu di jalan.

“Kalau saya turut prihatin dan turut belasungkawa atas kejadian itu. Saya hanya punya harapan bagaimana apakah itu perkara dengan suporter atau tidak, saya kira momentum beda karena tidak pertandingan. Hanya lewat dan yang kena individual yang kebetulan PSS Sleman,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (4/8).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengajak suporter sepakbola di Jogjakarta untuk menjaga nilai-nilai keistimewaan Jogjakarta. Baik untuk suporter dari PSIM maupun dari PSS. Sehingga tak ada lagi kericuhan – kericuhan lagi kedepannya.

HB X juga meminta setiap kelompok berafiliasi pada tindakan positif. Dalam arti membangun solidaritas untuk berprestasi. Bukan sebaliknya, olahraga justru menjadi tindakan yang tidak manusiawi dan melanggar hukum.

“Saya berharap suasana rukun guyub antar suporter bisa dilakukan. Kalau saya minta kepada Kota (Jogja) maupun Sleman, saya mau lah memfasilitasi dialog suporter ini. Pendekatannya gimana yang penting ya kompak lah untuk menjadi bagian dari Jogjakarta,” katanya.

Dialog, lanjutnya, tak lagi membicarakan terkait rivalitas yang tak sehat. Namun bagaimana bersama-sama memajukan sepakbola di Jogjakarta. Tentunya dengan dukungan moral yang positif bagi tim sepakbola masing-masing.

HB X tak melarang para suporter mendukung tim kesayangannya. Hanya saja tak perlu dibumbui dengan tindakan anarkis. Terlebih yang berujung pada aksi melawan dan melanggar hukum.

“Saya ingin mereka punya kesadaran bersama. Kita berdialog, mau fasilitasi provinsi bersama-sama. Bagaimanapun itu masyarakat Jogja masyarakat kita bersama, jangan selalu terjadi tindakan-tindakan yang akhirnya konsekuensi pidana. Kalau bersorak-sorak biasa, tapi jangan kekerasan,” pesannya. (Dwi)

Jogja Raya