RADAR JOGJA – Panitia Khusus (Pansus) Laporan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan (AMJ) Gubernur DIJ Masa Jabatan 2017-2022 telah mengiventarisasi beberapa persoalan yang menonjol selama lima tahun terakhir. Salah satunya menyangkut rencana operasional Pelabuhan Tanjung Adikarta, Kulonprogo.

Pelabuhan yang digadang-gadang sebagai bagian dari implementasi visi Among Tani Dagang Layar yang pernah dicetuskan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X itu, kondisinya mangkrak. Tak ada operasional yang berarti. Bukan hanya setahun atau dua tahun. Namun sudah bertahun-tahun lamanya.

“Kami sudah pertanyakan nasib Tanjung Adikarta itu dalam rapat kerja dengan eksekutif,” ujar Wakil Ketua Pansus LPKJ AMJ Gubernur DIJ Masa Jabatan 2017-2022 Gimmy Rusdin Sinaga Minggu (30/7).

Gimmy mengatakan, dalam rapat kerja yang berlangsung pekan lalu, pansus mengundang sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Di antaranya, Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ, Bapppeda dan beberapa OPD lainnya.

Gimmy memimpin rapat kerja dengan Ketua Pansus Retno Sudiyanti sempat meminta paparan dari dinas kelautan dan perikanan. Usai paparan, politisi yang sehari-hari menjabat ketua Komisi C DPRD DIJ itu secara terbuka meminta kejelasan Tanjung Adikarta kepada pejabat Pemprov DIJ yang mengikuti rapat kerja tersebut.

“Tanjung Adikarta ini mau diapakan. Sudah bertahun-tahun kelanjutan tidak jelas. Mau diteruskan atau stop sampai di sini,” tegas pria yang tinggal di daerah Maguwoharjo, Depok, Sleman ini.

Wakil rakyat yang biasa bicara blak-blakan ini mengaku bingung mencermati laporan soal Tanjung Adikarta. Betapa tidak, pelabuhan telah menyedot anggaran yang mencapai ratusan miliar. Bahkan sudah hampir setengah triliun. Atau sekitar Rp 540 miliar yang bersumber dari APBD DIJ maupun APBN.

“Tapi kenapa bahan penelitiannya sudah 20 tahun lalu, sampai sekarang belum diperbarui. Tahun 2002, saya masih jadi PNS,” ucapnya heran. Menyadari itu, Gimmy minta agar kajian soal Tanjung Adikarta segera disesuaikan dengan kondisi terkini. Banyak hal yang sudah tidak relevan jika masih merujuk kajian 2002 silam.

Usai Gimmy bicara, Retno yang berada di sampingnya langsung menimpali. Dia menyentil mengkaitkan kondisi Tanjung Adikarta dengan visi yang pernah disampaikan gubernur. “Sebenarnya visi gubernur itu menurut panjenengan (Anda semua, Red) ngayawara tidak sih,” sindir Retno.

Tak ada jawaban dari peserta rapat kerja. Semua terdiam. Mayoritas peserta yang mengikuti pertemuan dengan pansus itu pejabat level kedua dan tiga di instansinya. Eselon tiga dan empat. Hingga rapat selesai, tak terlihat kepala OPD yang hadir.

Klarifikasi atas nasib Tanjung Adikarta disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Bappeda DIJ Andreas Avilinus Suwantoro. Birokrat yang akrab disapa Wawan itu menegaskan, Pemprov DIJ tetap memiliki komitmen untuk melanjutkan pembangunan Tanjung Adikarta.

“Sampai sekarang kami masih mengusulkan kegiatan tersebut ke pemerintah pusat,” tegas Wawan. Dia tak sepakat dengan pandangan yang ingin menyetop operasional pelabuhan yang berada di Pantai Selatan Jawa itu. Kendala yang mengemuka terkait alat pemecah ombak. “Kami terus bicara dengan pemerintah pusat,” lanjut birokrat yang lama bertugas di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DIJ ini.

Di sisi lain, dari pantauan lapangan, kondisi Tanjung Adikarta cukup memprihatinkan. Mangkrak alias tidak berfungsi. Boleh dikatakan, 80 persen kondisi gedung dan fasilitas pendukung pelabuhan rusak berat. Kerusakan terjadi pada fasilitas pemecah ombak, alur pelabuhan, jalan lingkar, bengkel dan docking pelabuhan. Termasuk pos jaga pintu masuk.

Sekitar tujuh tahun lalu atau pertengahan 2015, proses normalisasi sempat dilakukan. Namun sekarang tak ada kelanjutannya. Ketidakjelasan operasional pelabuhan sempat mendorong warga di sekitar pelabuhan yang berada di Kalurahan Karangwuni, Wates, Kulonprogo merintis wisata alternatif.

Warga berinisiatif menanam cemara udang di selatan pelabuhan. Juga tempat parkir. Semua dilakukan secara swadaya. Kemudian 2016 lalu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manunggal Adikarta menyewakan perahu keliling kolam pelabuhan hingga muara Sungai Serang.

Kini, semua aktivitas itu sudah tidak ada. Bubar. Mereka yang datang mengunjungi Tanjung Adikarta bukan lagi wisatawan. Lebih banyak pemancing. Ada juga nelayan yang mencoba mencari peruntungan. Menebar jala dari tubir-tubir pelabuhan yang mulai usang.

Warga tak ada yang berani mendekat. Berteduh di bawah gedung mengandung risiko. Hampir semua bangunan gentingnya rontok. Di tembok gedung terpasang tulisan “Awas Genting Jatuh”. (kus/tom/laz)

Jogja Raya